Renat running text

Key Concepts

Anti Right Click (Hide this by setting Show Title to No in the Module Manager)

KEMISKINAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN PDF Print E-mail
Written by Bagong Suyanto   
Wednesday, 17 November 2010 15:10

JURNAL MASYARAKAT KEBUDAYAAN DAN POLITIK

Volume 14, Nomor 4:25-42

 

Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Miskin

 

Bagong Suyanto1

Departemen Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga 

 

Abstract

This paper assumes that poverty is not just lack of income and productive assets. Poverty is also a trap, a combination of poverty burden, fragility, impowermence, physical weakness, and alienation. To empower the poor families, capital aid package is not sufficient. This paper suggests that the poor families should be empowered by a more basic policy, which is a people-oriented anti-poverty policy.

 

Kata-kata Kunci: deprivation trap, poverty rackets, empowerment

 


Terhitung sejak bulan Juli tahun 1997 lalu, memburuknya situasi  perekonomian  nasional dan musim kemarau yang berkepanjangan dengan cepat mulai menyentuh lapisan masyarakat paling bawah. Kedua permasalahan ini bukan saja menyebabkan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat mengalami kemunduran —berupa terganggu-nya kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi—, tetapi juga melahirkan penurunan daya beli masyarakat dan bahkan daya tahan penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup yang makin melambung.

          Jan C. Breman —pakar sosiologi dari Belanda— dari hasil pengamatannya langsung di lapang-an menyatakan bahwa di berbagai pedesaan saat ini terjadi proses kemiskinan yang luar biasa akibat situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor formal dan konstruksi (Kompas, 27 April 1998). Di wilayah pedesaan, dalam kondisi normal saja aset dan sumber daya yang bisa didistribusikan sudah sangat terbatas. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika ditambahi dengan adanya arus mudik pengangguran ke berbagai desa. Kehadiran para pengangguran atau pekerja korban PHK di pedesaan tak pelak akan makin menambah beban sosial ekonomi yang mesti ditanggung oleh desa. Jika sebelumnya banyak warga desa yang menggantungkan hidup dari kiriman uang sanak-keluarga mere-ka yang bekerja di kota, kini setelah  terjadi gelombang PHK besar-besaran, maka mau tidak mau mereka harus bisa bertahan hidup dengan bekerja seadanya.

          Di berbagai wilayah pedesaan, sudah bukan rahasia lagi bahwa selama ini orang dan keluarga-keluarga miskin umumnya hanya mampu bertahan hidup secara pas-pasan, bahkan serba kekurangan. Mereka biasanya memenuhi kebu-tuhan hidup sehari-hari dengan cara mengutang ke warung-warung, mengurangi konsumsi, makan tanpa lauk-pauk atau bahkan terpaksa menjual sebagian barang yang mereka miliki, seperti sepeda, mesin jahit, pakaian atau perhias-an. Jika ada salah seorang anggota keluarga yang sakit —entah itu anak atau orang tua— niscaya keluarga miskin itu akan makin menderita, dan bahkan tidak mustahil collaps. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang stagnan —bahkan surut langkah— seperti sekarang ini tidak mustahil apabila di Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya banyak muncul atau lahir kelompok orang miskin baru, yakni kelompok masyarakat miskin yang dulunya berasal dari kelas sosial-ekonomi yang  sesungguhnya sebelumnya bukan tergolong mis-kin.

 

Pembangunan di Pedesaan

 

Di Indonesia, sebetulnya ada banyak studi yang telah dilakukan untuk mengkaji proses dan berbagai dampak sosial-budaya yang ditim-bulkan selama berlangsungnya kegiatan pembangunan dan mo-dernisasi di pedesaan. Sebagian besar ahli —khususnya penganut strukturalis konflik— menyadari dan menemukan sejumlah bukti bahwa kegiatan pembangunan dan gelombang modernisasi bukan sekadar mendorong terjadinya peningkatan produk masyarakat desa, tetapi juga mendorong terjadinya perubahan sosial secara dramatis dan massif di desa-desa.

          Hayami dan Kikuchi (1987) mencatat, akibat gelombang  mo-dernisasi —seperti komersialisasi, rasionalisasi, tekanan penduduk dan teknologi baru— dalam banyak hal telah menyebabkan terjadinya sejumlah perubahan penting pada masyarakat pedesaan. Isolasi geo-grafis, ekonomi, politik, sosial, budaya dan psikologis secara pasti mulai tercabik, dan di ujungnya komunitas desa yang semula lembut, personal, harmonis, kolektif dan humanistik pelan-pelan ber-ubah menjadi komunitas yang individualistik, serba kontraktual, terpolarisasi dan sekaligus makin kritis.

          Komunitas pedesaan di Indo-nesia yang semula berciri ruralisme dan pluralisme, pelan namun pasti makin bergeser dan bahkan beru-bah ke arah urbanisme dan unitarisme (Soemardjan, dalam: Masyarakat, Jurnal Sosiologi, Volu-me 2/1990: 11). Desa yang semula sebagian besar masyarakatnya hidup di sektor pertanian dan berpegang kuat pada adat yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa banyak perubahan (ruralis-me), kini cenderung makin individualistik di dalam aneka-ragam profesi non-agraris, dan peran adat pun biasanya hanya menonjol pada kegiatan seremonial atau upacara yang tak memiliki kekuatan untuk mengontrol perila-ku warga (urbanisme).

          Identitas dan kekhasan ma-sing-masing desa makin lama juga makin pudar. Desa yang semula hidup dengan segala perbedaaan atau kebhinekaannya (pluralisme), kini secara administratif dan birokratis cenderung makin sera-gam karena campur tangan negara (unitarisme). Kehadiran Undang-Undang Nomor 5/1979 mengenai Pemerintah Desa yang menghendaki kesamaan dalam bentuk dan susunan pemerintahan desa di seluruh Indonesia adalah pemicu pertamakali dimulainya penyera-gaman kegiatan pembangunan di pedesaan secara nasional.

          Demi efisiensi, stabilitas, dan ketertiban administratif, kegiatan pembangunan yang serbasama dan tersentralistik mungkin benar diperlukan untuk mendukung kelancaran tugas birokasi. Melalui campur tangan yang intensif dari negara, benar pula bahwa proses pembangunan akan berjalan lebih massal dan cepat. Namun, campur tangan negara yang cenderung otoriter dan bersifat sangat sentralistis dalam pelaksanaan kebijaksanaan dikhawatirkan di saat yang bersamaan juga akan melahirkan berbagai masalah.

          Loekman Soetrisno (1984), menyatakan peran negara yang terlampau besar dan luas dikhawatirkan akan menyebabkan negara menjadi kurang peka dan merasa bahwa sudah menjadi hak dari aparat negara untuk membatasi warga masyarakat me-milih alternatif dalam pembangun-an. Bagaimana pun, kita tidak bisa menutup mata bahwa upaya penyeragaman kegiatan pemba-ngunan nasional yang melalaikan eksistensi adat-istiadat, kepercaya-an, dan budaya lokal cenderung akan menimbulkan ketegangan daripada kelancaran pelaksanan-nya.

          Banyak bukti menunjukkan, proses pembakuan integrasi nasi-onal yang dilakukan semata dari "pusat" acap justru melahirkan kericuhan di tingkat lokal. Seperti dikatakan Soetandyo Wignjosoebro-to (tanpa tahun), manakala penata-an perundang-undangan nasional, misalnya cuma bisa bagus di atas kertas, sedangkan dalam pengalam-an sehari-hari nyatanya justru malah merampasi hak-hak adat masyarakat lokal, maka terjadinya cultural counter movement ke arah relativisme budaya lokal bukanlah merupakan hal yang mustahil. Di mata Soetandyo, kegiatan pemba-ngunan nasional yang cenderung lebih banyak terekspresi sebagai proses transplantasi daripada sebagai proses transfomasi hanya akan melahirkan ketegangan sosial, bersifat a-historis dan merugikan warga masyarakat lokal.

          Kebijaksanaan pembangunan yang lahir dan serba dikendalikan oleh negara —atau yang disebut Dawam Rahardjo (1984) sebagai kebijaksanaan "nasi bungkus"— bukan cuma menelikung pranata-pranata komunitas desa yang tradisional, tetapi dalam banyak kasus juga makin menambah beban kemelaratan golongan miskin desa dan mengakibatkan merebaknya polarisasi sosial di kalangan masyarakat desa. Manning (1986), misalnya, mencatat sejak tahun enampuluhan —bersamaan dengan mulai merebaknya proses modern-isasi dan pembangunan nasional—, ternyata di Indonesia justru muncul berbagai kontradiksi. Penganggur-an, setengah pengangguran, dan kemiskinan baik di kota maupun di desa tidak berkurang secara berarti, sekali pun telah tercapai pertum-buhan ekonomi yang pesat.

          Ada kesan kuat bahwa hasil-hasil pembangunan selama ini lebih banyak dinikmati oleh lapisan tertentu saja, sehingga menimbul-kan kesenjangan. Bahkan, kesenjangan yang terjadi bukan hanya antara kaya dan miskin dalam masyarakat, namun juga antara daerah perkotaan dan pedesaan. Seperti sudah dikaji oleh Rachbini dkk. (1994), kesenjangan antar kelompok pendapatan antara daerah perkotaan dan pedesaan telah memburuk sejak dibukanya perekonomian pedesaan ke arah ekonomi pasar. Hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi, dan kekuasaan yang dapat mengambil manfaat dari program-program pembangunan.

          Tekanan atas kelompok masyarakat desa yang miskin semakin terasa dampaknya ketika pemilikan tanah bersama diganti oleh pemilikan tanah perorangan. Jumlah petani yang tidak memiliki tanah, tumbuh secara semakin meyakinkan, di mana kesempatan baru untuk golongan ini ditentukan oleh tuan tanah. Di sisi lain pemimpin-pemimpin komunal desa yang sebelumnya menjadi pengam-bil keputusan desa, sekarang cenderung diganti oleh tuan tanah.

          Menurut Scott (1972), di daerah-daerah kolonial di Asia Tenggara, salah satu perubahan yang terlihat menyolok adalah hubungan tuan tanah dan peng-garap cenderung semakin besar tingkat hisapannya, baik tentang pembagian hasilnya (balance of exchange) maupun tentang hak untuk melangsungkan hidup. Di berbagai wilayah pedesaan, Scott mencatat bahwa perubahan besar dalam kehidupan agraria mengha-silkan suatu kelas penggarap yang semakin besar, yang kelangsungan hidup dan ketentramannya semakin tergantung pada belas kasihan pemilik tanah. Di sisi lain, munculnya pasar serta sistem pem-bayaran kontan menimbulkan kegoncangan baru karena adanya fluktuasi harga. Pada saat yang sama desakan untuk membagi kembali lingkungan desa menjadi bentuk kelangsungan hidup yang lebih baik semakin tidak bisa dipercaya, karena makin banyak tanah yang dimiliki oleh tuan-tuan tanah yang tidak tinggal di desa.

          Seiring dengan makin maraknya modernisasi di desa-desa —lanjut Scott— kewajiban sosial untuk membagi-bagikan surplus yang diperoleh telah semakin memudar, sementara di dalam struktur sosial itu sendiri kesempatan yang masih mungkin diperoleh ialah kedekatan seseorang terhadap elite desa. Semakin jauh kedudukan seseorang dari ikatan patron, semakin kecil kesempatan-nya untuk memperoleh bagian dari surplus yang mungkin untuk dibagi-bagikan. Bahkan pergeseran dari perikatan patron-client dalam pola hubungan tanah pun tampak semakin nyata, terutama karena komersialisasi yang semakin ber-tumbuh dan pemusatan penguasa-an tanah oleh para tuan-tuan tanah.

          Apa yang diuraikan memperli-hatkan bahwa di Indonesia kegiatan pembangunan dan proses moderni-sasi yang semula dirancang untuk mengentas masyarakat miskin, ternyata dalam praktek tidaklah semulus apa yang direncanakan. Bahkan, ada kesan kuat, kegiatan pembangunan dan berbagai pro-gram yang dikucurkan ke masya-rakat, ternyata malah melahirkan kontradiksi dan proses marginalisa-si. Salah satu faktor utama penye-bab kegagalan berbagai program yang dirancang pemerintah, tak pelak adalah pada kekeliruan dan kesalahpahaman para perencana pembangunan tentang kemiskinan. Lebih dari sekadar persoalan ekonomi —atau kurangnya penda-patan keluarga— kemiskinan sesungguhnya memiliki tali-temali dengan banyak faktor yang secara keseluruhan menyebabkan upaya untuk mengentas masyarakat mis-kin menjadi tidak semudah yang diskenariokan.

 

Pengertian Kemiskinan

 

Selama ini sebenarnya sudah banyak dilakukan studi tentang kemiskinan, tetapi jawaban atas pertanyaan apa itu kemiskinan dan apa pula faktor penyebab kemiskinan sulit diberantas umum-nya masih simpang-siur. Antara ahli yang satu dengan ahli yang lain telah melukiskan masalah ini secara berbeda-beda. Levitan (1980) misalnya mendefinisikan kemiskin-an sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak. Sedangkan menurut Schiller (1979), kemiskinan adalah ketidaksanggup-an untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas. Dan, dengan nada yang sama Emil Salim mendefinisikan kemiskinan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok (Ala, 1981: 1-3).

          Di mata sebagian ahli, kemiskinan acapkali didefinisikan semata hanya sebagai fenomena ekonomi, dalam arti  rendahnya  penghasilan atau tidak dimilikinya mata pencaharian yang cukup mapan untuk tempat bergantung hidup. Pendapat seperti ini, untuk sebagian mungkin benar, tetapi diakui atau tidak kurang mencerminkan kondisi riil yang sebenarnya dihadapi keluarga miskin. Kemiskinan sesungguhnya bukan semata-mata kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau standar hidup layak, namun lebih dari itu esensi kemiskinan adalah menyangkut kemungkinan atau probabilitas orang atau keluarga miskin itu untuk melangsungkan dan mengembangkan usaha serta taraf kehidupannya.

          Banyak bukti menunjukkan bahwa yang disebut orang atau keluarga miskin pada umumnya selalu lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang memiliki potensi lebih tinggi. Studi yang dilakukan Wignjosoebroto dkk., (1992) tentang kehidupan masyara-kat rentan di Kotamadya Surabaya menemukan bahwa seseorang atau sebuah keluarga yang dijejas kemiskinan, mereka umumnya tidaklah banyak berdaya, ruang geraknya serba terbatas, dan cenderung kesulitan untuk terserap dalam sektor-sektor yang memung-kinkan mereka dapat mengembang-kan usahanya. Jangankan untuk mengembangkan diri menuju ke taraf sejahtera, sedangkan untuk bertahan menegakkan hidup fisiknya pada taraf yang subsisten saja bagi keluarga miskin hampir-hampir merupakan hal yang mustahil bila tidak ditopang oleh jaringan dan pranata sosial di lingkungan sekitarnya.

          Definisi yang lebih lengkap tentang kemiskinan dikemukakan oleh John Friedman. Menurut Friedman (1979), kemiskinan ada-lah ketidaksamaan untuk mengaku-mulasi basis kekuasaan sosial. Sementara yang dimaksud basis kekuasaan sosial itu menurut Friedman meliputi. Pertama, modal  produktif  atas asset, misalnya tanah perumahan, peralatan, dan kesehatan. Kedua, sumber keuang-an, seperti income dan kredit yang memadai. Ketiga, organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersa-ma, seperti koperasi. Keempat, network atau jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang, pengetahuan dan ketram-pilan yang memadai. Kelima, informasi-informasi yang berguna untuk kehidupan.

          Menurut akar penyebab yang melatarbelakanginya, secara teoritis kemiskinan dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, kemiskinan alamiah, yakni kemiskinan yang timbul sebagai akibat sumber-sumber daya yang langka jumlah-nya dan/atau karena tingkat perkembangan teknologi yang sangat rendah. Artinya faktor-faktor yang menyebabkan suatu masyara-kat menjadi miskin adalah secara alami memang ada, dan bukan bahwa akan ada kelompok atau individu di dalam masyarakat tersebut yang lebih miskin dari yang lain. Mungkin saja dalam keadaan kemiskinan alamiah tersebut akan terdapat perbedaan-perbedaan ke-kayaan, tetapi dampak perbedaan tersebut akan diperlunak atau dieliminasi oleh adanya pranata-pranata tradisional, seperti pola hubungan patron-client, jiwa gotong-royong, dan sejenisnya yang fungsional untuk meredam ke-mungkinan timbulnya kecemburu-an sosial.

          Kedua, kemiskinan buatan, yakni kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial yang ada membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas-fasilitas secara merata. dengan demikian sebagian anggota masyarakat tetap miskin walaupun sebenarnya jumlah total produksi yang dihasilkan oleh masyarakat tersebut bila dibagi rata dapat membebaskan semua anggota masyarakat dari kemiskinan.

          Kemiskinan buatan —dalam banyak hal— terjadi bukan karena seorang individu atau anggota keluarga malas bekerja atau karena mereka terus-menerus sakit. Berbe-da dengan perspektif modernisasi yang cenderung memvonis kemis-kinan bersumber dari lemahnya etos kerja, tidak dimilikinya etika wirausaha atau karena budaya yang tidak terbiasa dengan kerja keras, kemiskinan buatan dalam perbin-cangan di kalangan ilmuwan sosial acapkali diidentikkan dengan pe-ngertian kemiskinan struktural. Menurut Selo Soemardjan (1980), yang dimaksud dengan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pen-dapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.

          Secara teoritis, kemiskinan  buatan atau kemiskinan struktural dapat diartikan sebagai suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utama-nya bersumber, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku adalah sedemikian rupa keadaannya sehingga mereka yang termasuk ke dalam golongan miskin tampak tidak berdaya untuk mengubah nasibnya dan tidak mampu memperbaiki hidupnya. Struktur sosial yang berlaku telah mengurung mereka ke dalam suasana kemiskinan secara turun-temurun selama bertahun-tahun. Sejalan dengan itu, mereka hanya mungkin keluar dari penjara kemelaratan melalui suatu proses perubahan struktur yang mendasar.

          Kemiskinan struktural, biasa-nya terjadi di dalam suatu masyarakat di mana terdapat perbe-daan yang tajam antara mereka yang hidup melarat dengan mereka yang hidup dalam kemewahan dan kaya raya. Mereka itu, walaupun merupakan mayoritas terbesar dari masyarakat, dalam realita tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk mampu memperbaiki nasib hidupnya. Sedangkan minoritas kecil masyarakat yang kaya raya biasanya berhasil memonopoli dan mengontrol berbagai kehidupan, terutama segi ekonomi dan politik. Selama golongan kecil yang kaya raya itu masih menguasai berbagai kehidupan masyarakat, selama itu pula diperkirakan struktur sosial yang berlaku akan bertahan. Akibatnya terjadilah apa yang disebut dengan kemiskinan struk-tural.

          Golongan yang menderita kemiskinan  struktural itu, misal-nya terdiri dari para petani yang tidak memiliki tanah sendiri, atau para petani yang tanah miliknya kecil sehingga hasilnya tidak mencukupi untuk memberi makan kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Termasuk golongan miskin lain adalah kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih, atau apa yang dengan kata asing disebut unskilled labour. Golongan miskin ini meliputi juga para pengusaha tanpa modal dan tanpa fasilitas dari pemerintah —yang sekarang dapat dinamakan golongan ekonomi sangat lemah (Soedjatmoko, 1981: 46-61).

          Ciri utama dari kemiskinan struktural ialah tidak terjadinya —kalaupun terjadi sifatnya lamban sekali— apa yang disebut sebagai mobilitas sosial vertikal. Mereka yang miskin akan tetap hidup dengan kemiskinannya, sedangkan yang kaya akan tetap menikmati kekayaannya. Mengapa bisa sampai begitu? Menurut pendekatan struktural, adalah terletak pada kungkungan struktur sosial yang menyebabkan mereka kekurangan hasrat untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Struktur sosial yang berlaku telah melahirkan berbagai corak rintangan yang menghalangi mereka untuk maju. Umpamanya kelemahan ekonomi tidak memung-kinkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang berarti agar bisa melepaskan diri dari kemelaratan.

          Ciri lain dari kemiskinan struktural adalah timbulnya keter-gantungan yang kuat pihak si miskin terhadap kelas sosial-ekonomi di atasnya. Menurut Mohtar Mas'oed (1994: 143), adanya ketergantungan inilah yang selama ini berperan besar dalam memerosotkan kemampuan si miskin untuk bargaining dalam dunia hubungan sosial yang sudah timpang antara pemilik tanah dan penggarap, antara majikan dan buruh. Buruh tidak punya kemam-puan untuk menetapkan upah, petani tidak bisa mendapatkan harga hasil taninya —pendek kata pihak yang miskin relatif tidak dapat berbuat banyak atas eksploitasi dan proses marginalisasi yang dialaminya karena mereka tidak memiliki alternatif pilihan untuk menentukan nasib ke arah yang lebih baik.

          Pengertian dan definisi kemiskinan struktural, kendati menjadi alternatif konsep yang lebih disukai ilmuwan sosial. tetapi, kelebihan definisi seperti yang dikemukakan Selo Soemardjan di atas diakui atau tidak sesungguh-nya cenderung bersifat ideologis —dalam arti definisi di atas populer karena di sana ada semangat dan nilai-nilai yang menggugat kema-panan dan status quo. Secara konseptual, definisi kemiskinan yang dikemukakan Selo Soemardjan sedikit-banyak bersifat normatif. Parsudi Suparlan, misalnya, seorang antropolog yang menyun-ting kumpulan tulisan tentang kemiskinan di perkotaan, dengan lugas menyatakan bahwa definisi yang dikemukakan Selo Soemardjan kurang tajam dan tidak masuk akal (Suparlan, 1984: 14-15).

          Definisi dan pengertian kemiskinan yang lebih lengkap —dalam arti sesuai dengan kenyataan dan secara konseptual jelas— dikemukakan oleh Robert Chambers (1987). Menurut Robert Chambers, inti dari masalah kemiskinan sebenarnya terletak pada apa yang disebut deprivation trap atau perangkap kemiskinan. Secara rinci, deprivation trap terdiri dari lima unsur, yaitu: (1) kemiskinan itu sendiri, (2) kelemahan fisik, (3) keterasingan atau kadar isolasi, (4) kerentanan, dan (5) ketidakberdaya-an. Kelima unsur ini seringkali saling berkait satu dengan yang lain sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar-benar berbahaya dan mematikan peluang hidup orang atau keluarga miskin.

          Dari kelima dimensi di atas, kerentanan dan ketidakberdayaan perlu mendapat perhatian yang utama. Kerentanan, menurut Chambers dapat dilihat dari ketidakmampuan keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi darurat seperti datangnya bencana alam, kegagalan panen, atau penyakit yang tiba-tiba menimpa keluarga miskin itu. Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau "roda penggerak kemiskinan" yang menye-babkan keluarga miskin harus menjual harta benda dan asset produksinya sehingga mereka menjadi makin rentan dan tidak berdaya. 

          Ketidakberdayaan keluarga miskin salah satunya tercermin dalam kasus di mana elit desa dengan seenaknya memfungsikan diri sebagai oknum yang menjaring bantuan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin. Ketidakberdayaan keluarga miskin di kesempatan yang lain mungkin dimanifestasikan dalam hal seringnya keluarga miskin ditipu dan ditekan oleh orang yang memiliki kekuasaan. Ketidakberda-yaan sering pula mengakibatkan terjadinya bias bantuan terhadap si miskin kepada kelas di atasnya yang seharusnya tidak berhak memperoleh subsidi (Loekman Soetrisno, dalam: Dewanta dkk., 1995: 19-20).

          Seseorang atau sebuah keluarga yang miskin acapkali mampu tetap survive dan bahkan bangkit kembali terutama bila mereka memiliki jaringan atau pranata sosial yang melindungi dan menyelamatkan. Tetapi, seseorang  atau keluarga yang jatuh pada lingkaran setan atau perangkap kemiskinan, mereka umumnya sulit untuk bangkit kembali. Seseorang yang dibelit perangkap kemiskinan acapkali tidak bisa ikut menikmati hasil pembangunan dan justru menjadi korban pembangunan, rapuh, tidak atau sulit mengalami peningkatan kualitas kehidupan, dan bahkan acapkali justru mengalami penurunan kualitas kehidupan (Suyanto, 1996).

          Secara empirik, banyak bukti memperlihatkan bahwa naiknya penduduk di atas garis kemiskinan tidak otomatis berarti penduduk tersebut hidupnya benar-benar bebas dari ancaman dan perangkap kemiskinan, melainkan penduduk tersebut sebenarnya hanya berpin-dah dari satu tahap kemiskinan yang terendah —yaitu tahap destitute— ke tahap apa yang disebut sebagai near poor. Dibandingkan dengan kelompok kemiskinan destitue, kelompok near poor hidupnya memang relatif lebih baik, namun belum benar-benar stabil. Dalam arti bila sewaktu-waktu kelompok near poor ini menghadapi suatu krisis, maka dengan cepat kelompok near poor ini akan melorot lagi ke status destitue. Sebuah keluarga petani yang termasuk kelompok near poor tidak mustahil terpaksa turun kelas menjadi kelompok destitue bila tanpa diduga panen mereka tiba-tiba gagal karena serangan hama, karena serangan banjir, atau karena anjloknya harga jual di pasaran akibat ulah spekulan gabah.

          Dalam kenyataan bahkan acap terjadi, kelompok masyarakat yang termasuk cukupan atau kaya —bukan kelompok near poor— tiba-tiba harus mengalami penurunan status yang drastis, yakni masuk ke dalam kelompok "keluarga miskin baru". Jadi, berbeda dengan kesan dan pengumuman yang dikeluarkan pemerintah belakangan ini yang menyebutkan jumlah orang miskin di Indonesia senantiasa turun dari waktu ke waktu, dalam kenyataan justru tidak jarang terjadi penambahan jumlah orang miskin. Studi yang dilakukan Bagong Suyanto di sejumlah daerah di Jawa Timur menemukan bahwa kelompok masyarakat yang selama dua-tiga tahun terakhir terpaksa turun statusnya dari kelompok cukupan menjadi "keluarga miskin baru" adalah kelompok petani cengkeh dan petani garam (Suyanto, 1996). Studi yang dilakukan Bagong Suyanto tersebut, walau dengan jumlah sampel yang terbatas, namun membuktikan bahwa usaha untuk memberantas kemiskinan memang bukan hal yang mudah, sebab apa yang dialami keluarga dan masyarakat miskin bukan sekedar kekurangan pendapatan atau tidak dimilikinya modal usaha saja, tetapi lebih dari itu yang sesungguhnya membelenggu kelu-arga dan masyarakat miskin adalah apa yang disebut Robert Chambers dengan istilah perangkap kemiskin-an atau lingkaran setan kemiskin-an.

 

Upaya Pengentasan

 

Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dan menghapus kemiskinan, antara lain merumus-kan standar garis kemiskinan dan menyusun peta kantong-kantong kemiskinan. Di luar itu, tak sedikit program telah disusun dan dilaksanakan di lapangan, seperti terus memacu pertumbuhan ekono-mi nasional, menyediakan fasilitas kredit bagi masyarakat miskin —antara lain melalui pemberian bantuan dana IDT, program Takesra-Kukesra, PDM-DKE, PPK, KURK, KUT, dan lain-lain— membangun  infrastruktur di  pede-saan, pengembangan  model pemba-ngunan kawasan terpadu, termasuk melaksanakan dan meningkatkan kualitas program pembangunan, dan lain-lain.

          Untuk sebagian, berbagai bantuan dan program yang telah diupayakan pemerintah memang cukup bermanfaat. Namun, harus diakui bahwa upaya penanggulang-an kemiskinan yang dilakukan hingga kini masih belum membuah-kan hasil yang memuaskan. Masih banyak penduduk Indonesia baik di desa maupun di kota yang hidup dibelit kemiskinan. Di sisi lain, tak bisa diingkari fakta, bahwa kendati jumlah orang miskin menurun, namun kesenjangan dalam banyak hal justru semakin lebar.

          Menurut Ginandjar Kartasas-mita (1995), pada dasarnya lambatnya perkembangan ekonomi rakyat disebabkan sempitnya peluang untuk berpartisipasi dalam pembangunan yang mana hal itu merupakan konsekuensi dari ku-rangnya penguasaan dan pemilikan asset produksi terutama tanah dan modal. Pada umumnya masyarakat miskin tidak memiliki surplus pendapatan untuk bisa ditabung bagi pembentukan modal. Penda-patan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pokok.

          Di samping itu, faktor lain yang menyebabkan berbagai program pengentasan kemiskinan menjadi kurang  efektif tampaknya adalah berkaitan dengan kurangnya dibangun ruang gerak yang memadai bagi masyarakat miskin itu sendiri untuk memberdayakan dirinya. Acap terjadi, kegiatan pembangunan yang bertujuan untuk mensejahterakan penduduk miskin justru terjebak menjadi program yang melahirkan ketergan-tungan baru, dan bahkan memati-kan potensi swakarsa lokal.

Diakui atau tidak selama ini pendekatan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan —baik di tingkat nasional, regional maupun lokal— umumnya adalah dengan pendekatan ekonomi semata. Ada kesan kuat bahwa di mata pemerintah masalah kemiskinan sepertinya hanya dipahami sebagai sebuah persoalan kekurangan pendapatan. Sangat kelihatan pula di berbagai program yang dilaksana-kan pemerintah umumnya hanya berusaha memberikan bantuan di bidang permodalan, memberikan subsidi, dan semacamnya (Suyanto, 1995: 207-214).

          Memang, untuk jangka pendek pemberian bantuan ekono-mi itu bisa bermanfaat. Tetapi, untuk jangka panjang sesungguh-nya pemberian bantuan ekonomi itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Banyak bukti memperlihatkan bahwa pemberian  bantuan  ekono-mi  saja ternyata justru melahirkan problem-problem baru yang tidak kalah ruwetnya. Bahkan, tidak mustahil terjadi diperolehnya bantuan modal pinjaman kredit justru akan merupakan titik awal dari macam-macam masalah lain dan kehancuran usaha masyarakat miskin (Mubyarto, 1985: 429). Sebabnya salah satunya  adalah  berpangkal dari kesalahan orang miskin itu sendiri yang kadang hidup boros. Tetapi, disisi lain, kesalahan juga bisa bersumber dari tekanan-tekanan kebutuhan ekono-mi yang memang tidak bisa dielakkan masyarakat miskin, sering menyebabkan mereka terpaksa harus mengalihkan dan memanfaatkan kredit yang diper-oleh bukan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk kegiatan yang sifatnya konsumtif (Chambers, 1987).

          Penelitian yang dilakukan Bagong Suyanto (1991-2001) ten-tang peran berbagai lembaga kredit pedesaan —seperti Perum Pegadai-an, BPR, lembaga KURK, Kredit Usaha Tani, dan sebagai-nya— yang sebenarnya dimaksudkan untuk membantu kegiatan produktif masyarakat, menemukan ternyata banyak nasabah yang memanfaat-kan kredit yang diperolehnya itu bukan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk kegiatan yang sifatnya konsumtif, terutama untuk makan sehari-hari. Tekanan kebu-tuhan sehari-hari yang senantiasa mengancam dan kewajiban untuk menghidupi anak dan semacamnya telah membuat banyak keluarga atau golongan masyarakat miskin sulit untuk mengembangkan usaha-nya.

 

Peran Bantuan Permodalan

 

Salah satu ciri dari kemiskinan yang sudah lama dikenali para ahli adalah kehausan masyarakat desa terhadap kredit. Tetapi, ini bukan berarti setiap pemberian bantuan modal usaha berbunga lunak kepada masyarakat miskin selalu berfungsi efektif. Dalam kehidupan sehari-hari, kredit memang diperlukan karena penghasilan keluarga-keluarga miskin biasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, lebih-lebih untuk memenuhi berbagai kebutuh-an sosial atau kebutuhan darurat lainnya. Keadaan "defisit" yang senantiasa berjalan inilah yang mengakibatkan penduduk desa terlibat sistem ijon (Mubyarto dan Kartodirdjo, 1988: 35).

          Bagi masyarakat desa, kredit merupakan sarana untuk mencipta-kan pendapatan melalui bekerja dan berusaha dalam lingkungan ekonomi pedesaan. Kredit yang tepat, murah, dan mudah yang dikelola berdasar adat dan budaya setempat merupakan salah satu sarana penting yang amat membantu melancarkan kegiatan perekonomian pedesaan. Ringkas-nya, fungsi kredit adalah untuk membantu meningkatkan kesejah-teraan masyarakat desa, khususnya yang tergolong miskin.

          Meski pun demikian tidaklah dapat dikatakan bahwa tersedianya kredit akan selalu bisa memecah-kan semua masalah petani. Bisa saja terjadi diperolehnya kredit justru akan merupakan titik awal dari macam-macam masalah lain dan kehancuran usaha tani (Mubyarto, 1985: 429). Sebabnya salah satunya adalah berpangkal dari kesalahan petani sendiri yang kadang hidup boros. Tetapi, di sisi lain, kesalahan juga bisa bersumber dari tekanan-tekanan kebutuhan ekonomi yang memang tidak bisa dielakkan petani. Kerentanan dan kemiskinan yang diderita petani, sering menyebabkan mereka terpaksa harus mengalihkan dan memanfaatkan kredit yang diperoleh bukan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk kegiatan yang sifatnya konsumtif (Chambers, 1987). Dalam penelitian ini, yang dimaksud kredit produktif adalah kredit yang pemanfaatannya dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup nasabah. Sedangkan yang dimaksud kredit konsumtif adalah kredit yang pemanfaatannya hanya dimaksud-kan untuk sekedar bertahan hidup (Djojohadikusumo, 1988).

          Dari segi bisnis, kredit hanyalah merupakan salah satu faktor saja dari kombinasi faktor-faktor produksi yang harus secara bersama-sama mensukseskan sua-tu usaha. Ada banyak contoh usaha yang berhasil tanpa dukungan kredit, atau banyak usaha tidak berkembang meskipun memperoleh bantuan kredit (Suyanto, 1992). Kegagalan yang sering terjadi dalam memanfaatkan kredit biasanya disebabkan kegagalan dalam pemasaran hasil produksi, baik karena semata-mata kalah dalam persaingan dengan pengusaha atau petani lain yang lebih kuat, maupun karena sebab-sebab obyektif seperti mutu hasil yang rendah dan sebagainya. Memang harus diakui bahwa kelemahan dalam pemasar-an justru karena aspek pemasaran ini biasanya dianggap tidak sukar, jadi diremehkan (Soekartawi, 1989).

          Kesulitan pelaksanaan pem-berian kredit secara efektif biasanya mengalami beberapa hambatan, misalnya karena amat beragamnya kelompok sasaran yang hendak dijangkau, dan kesukaran meng-kompromikan kriteria efisiensi dan efektivitas kredit. Berdasarkan pengalaman di negara sedang berkembang, kredit lebih mudah dinikmati oleh petani menengah dan petani besar (Kasryno, 1984). Padahal jelas yang lebih memerlu-kan adalah petani-petani kecil yang tidak mampu membeli sarana produksi pertanian secara tunai.

          Di Indonesia, salah satu bentuk pemberian modal usaha untuk memberdayakan masyarakat miskin adalah melalui pelaksanaan program IDT. Dibandingkan pro-gram-program pembangunan yang lain, program IDT secara konsep-sional menawarkan sesuatu yang relatif baru. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan dalam praktek pelaksanaan program IDT relatif sama dengan program-program terdahulu, yakni meman-dang kemiskinan sepertinya hanya sebagai sebuah persoalan keku-rangan pendapatan.

          Memang, untuk jangka pen-dek upaya pemberian bantuan melalui program IDT bisa bermanfaat. Tetapi, untuk jangka panjang sesungguhnya pemberian bantuan ekonomi itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Banyak bukti memperlihatkan bahwa pemberian bantuan ekonomi saja ternyata justru melahirkan pro-blem-problem baru yang tidak kalah ruwetnya. Penelitian yang dilakukan tim UGM (1994) tentang penggunaan dana IDT menemukan bahwa dana bantuan ini ternyata sebagian dipergunakan untuk memperbaiki rumah, prasarana desa, dan pembelian kendaraan. Sementara itu, penelitian tim LPEM-FEUI (1994) menemukan adanya kecenderungan bahwa anggota Pokmas menggunakan dana IDT untuk kegiatan konsumif, karena dana per anggota terlalu kecil.

          Kegagalan dalam pemanfaat-an dana bantuan usaha bagi penduduk miskin —untuk sebagi-an— memang terjadi akibat kesalahan pihak si miskin. Tetapi, harus diakui bahwa kegagalan itu terjadi tidak sepenuhnya karena kesalahan penduduk miskin itu sendiri —seperti karena mereka secara kultural boros, misalnya. Menurut San Sri Awang, kesalahan dalam pemanfaatan dana IDT, ternyata terjadi karena campur tangan oknum pemerintah terlalu berlebihan dalam menentukan kegiatan Pokmas.  Biasanya dengan alasan untuk memudahkan peman-tauan, oknum aparat  pemerintah cenderung "menganjurkan" pendu-duk miskin penerima dana IDT untuk memanfaatkan bantuan yang  menjadi  haknya  untuk  pembelian ternak, terutama kambing.

          Di samping faktor campur tangan aparat, faktor lain yang menyebabkan penduduk miskin sulit mengembangkan kegiatan produktif sekadar dari bantuan pinjaman adalah tekanan kebutuh-an ekonomi sehari-hari yang sifatnya struktural. Penelitian yang dilakukan oleh Mukhtar Sarman di desa Sukajaya, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, menemukan bahwa tidak ada bukti yang cukup signifikan bahwa program IDT dapat memicu dan memacu dinamika perkembangan ekonomi rakyat di desa tertinggal. Pokmas-pokmas yang menerima dana IDT tahun pertama umumnya gagal mengem-bangkan usahanya, dengan bera-gam kendala dan masalah.

         

Berpusat Pada Rakyat

 

Apa yang sudah terjadi selama ini, mengajarkan pada kita bahwa upaya untuk mengentas masyara-kat dari kubangan perangkap kemiskinan dan sekaligus untuk membangun keluarga sejahtera yang diperlukan bukan cuma paket "nasi bungkus" bantuan ekonomi atau upaya-upaya yang sifatnya karitas saja. Paket-paket bantuan ekonomi di satu sisi akan rawan bias dan justru memperlebar ketimpangan dan kesenjangan an-tar kelas, sementara di sisi lain upaya-upaya karitas dengan cara menyantuni secara penuh dan menjadikan keluarga-keluarga mis-kin sebagai obyek amal justru akan menimbulkan ketergantungan saja di pihak mereka yang disantuni dan akhirnya justru akan cuma menimbulkan ketidakberdayaan ke-luarga atau masyarakat miskin.

          Menurut Korten dan Carner (1988), kekurangan pokok dari model-model pengentasan kemis-kinan yang banyak dipraktekkan di negara sedang berkembang adalah bahwa mereka menjadi begitu memusatkan perhatian pada peningkatan kuantitas produksi atau hasil, sehingga kebutuhan sistem produksi mendapat tempat yang lebih utama daripada kebutuhan rakyat. Bagi Indonesia, kritik Korten dan Carner ini tampak sangat relevan. Banyak bukti menunjukkan, paket-paket program pengentasan kemiskinan di Indonesia memang lebih banyak berorientasi pada peningkatan produksi daripada bertujuan untuk mendistribusikan kesejahteraan. Paket bantuan permodalan dan bantuan teknologi —seperti program motorisasi perikanan atau masuk-nya huller di desa-desa, misalnya— yang diberikan pemerintah meski dimaksudkan untuk mendongkrak pendapatan masyarakat miskin. Namun, sangat kelihatan bahwa di balik itu maksud yang sesungguh-nya adalah untuk meningkatkan produksi demi kepentingan ekspor dan peraihan devisa.

          Bahkan, yang lebih tragis sering terjadi tindakan yang dilakukan pemerintah atas nama pembangunan bukan memberikan manfaat yang nyata bagi usaha pengentasan kemiskinan, melain-kan justru berdampak menggerogoti kemampuan swadaya lokal. Pene-trasi teknologi dan modal ke desa-desa miskin, benar di satu sisi telah berhasil mendongkrak angka-angka produksi dan mengantarkan Indonesia ke tahap swasembada dalam berbagai sektor produksi. Namun, tak bisa diingkari bahwa kesenjangan di saat yang bersama-an justru makin melebar dan potensi masyarakat banyak yang tersungkur digerus modernisasi (Rachbini dkk., 1994).

          Untuk memerangi kemiskinan secara frontal di semua sektor, karena itu yang diperlukan sebenarnya adalah kebijakan yang lebih mendasar —sebuah kebijakan anti-kemiskinan yang benar-benar harus mendahulukan serta berdi-mensi kerakyatan. Konsep utama dari pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah memandang inisiatif kreatif dari rakyat sebagai sumber daya pembangunan yang utama dan memandang kesejah-teraan material dan spiritual mereka sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh pembangunan.

          Menurut Korten (1982), asumsi dasar dari pembangunan yang berpusat  pada  rakyat  mengi-nginkan  alternatif paradigma pembangunan yang tidak berorientasi pada produksi dan kebutuhan dasar semata, akan tetapi akan berorientasi pada potensi manusia. Melalui potensi manusia maka kemampuan pengembangan diri sesuai dengan keinginan dapat diharapkan. Orien-tasi pembangunan yang berpusat pada rakyat memiliki tiga dasar pemikiran, yakni. Pertama, memu-satkan pemikiran dan tindakan kebijaksanaan pemerintah pada penciptaan keadaan-keadaan yang mendorong dan mendukung usaha-usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah mereka sendiri pada tingkat individual, keluarga dan komunitas. Kedua, mengembangkan struktur organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah sistem swa-organisa-si. Ketiga, mengembangkan sistem-sistem produksi konsumsi yang diorganisir secara teritorial yang berlandaskan pada kaidah pemilik-an dan pengendalian lokal.

          Pembangunan-pembangunan yang berdimensi kerakyatan memberi peran kepada individu bukan sebagai subyek, melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Pembangunan yang berpusat pada rakyat menghargai dan mempertim-bangkan prakarsa dan perbedaan lokal. Karena itu ia mendukung sistem-sistem swa-organisasi yang dikembangkan di sekitar satuan-satuan organisasi berskala manusia dan komunitas-komunitas swadaya. Pembangunan yang berdemensi pada kerakyatan, ringkas kata sangat mensyaratkan adanya keberdayaan dan pemberdayaan masyarakat  yang serius.

          Pemberdayaan sendiri pada hakikatnya merupakan sebuah konsep yang fokusnya adalah hal kekuasaan. Pemberdayaan secara substansial merupakan proses memutus atau breakdown dari hubungan antara subyek dengan obyek. Proses ini mementingkan pengakuan subyek akan kemam-puan atau daya (power) yang dimiliki obyek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya mengalirnya daya dari subyek ke obyek. Hasil akhir dari proses pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula obyek menjadi subyek (yang baru), sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan dicirikan dengan relasi antarsubyek dengan subyek yang lain. Samuel Paul, misalnya, menyatakan bahwa pemberdayaan berarti pembagian kekuasaan yang adil sehingga meningkatkan kesadaran politis dan kekuasaan kelompok yang lemah serta memperbesar pengaruh mereka terhadap proses dan hasil pembangunan. Pemberdayaan pada intinya adalah pemanusiaan. Pemberdayaan, menurut Indrasari Tjandraningsih (1996), mengutama-kan usaha sendiri dari orang yang diberdayakan untuk meraih keber-dayaannya. Oleh karena itu, pemberdayaan sangat jauh dari konotasi ketergantungan.

          Menurut Ginanjar Kartasas-mita, upaya memberdayakan rakyat harus dilakukan melalui tiga cara. Pertama, menciptakan suasana dan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Kondisi ini berdasarkan asumsi bahwa setiap individu dan masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Hakikat kemandirian dan keberdayaan rakyat adalah keyakinan bahwa rakyat memiliki potensi untuk mengorganisasi dirinya sendiri dan potensi kemandirian individu perlu diberdayakan. Proses pemberdaya-an rakyat berakar kuat pada proses kemandirian tiap individu yang kemudian meluas ke keluarga, serta kelompok masyarakat baik di tingkat lokal maupun nasional. Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh rakyat dengan menerapkan langkah-langkah nyata, menampung berba-gai masukan, menyediakan prasara-na dan sarana, baik fisik maupun sosial yang dapat diakses oleh masyarakat lapisan bawah. Ketiga, memberdayakan rakyat dalam arti melindungi yang lemah dan membela kepentingan masyarakat lemah. Dalam proses pemberdayaan harus dicegah jangan sampai yang lemah makin terpinggirkan dalam menghadapi yang kuat. Di mata Kartasasmita, pemberdayaan ma-syarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial.

          Konsep pemberdayaan pada dasarnya lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyedia-kan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembang-kan sebagai upaya mencari alterna-tif terhadap konsep-konsep pertum-buhan di masa yang lalu. Konsep ini berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa yang antara lain oleh John Freidmann disebut alternative deve-lopment, yang menghendaki inclusi-ve democracy, appropriate economic growth, gender equality and interge-nerational equity.

          Substansi pemberdayaan ada-lah memampukan dan memandiri-kan masyarakat. Pemberdayaan bu-kan hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Mena-namkan nilai-nilai budaya modern —seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, kebertanggungjawab-an— disebut-sebut sebagai bagian dari upaya pemberdayaan itu. Secara lebih rinci, dimensi-dimensi dari pemberdayaan, bukan saja menyangkut upaya merubah kognisi, menumbuhkan keinginan seseorang untuk mengaktualisasi-kan diri, dan memberikan pengala-man psikologis yang membuat seseorang merasa berdaya. Tetapi juga menyangkut pada usaha memampukan masyarakat miskin melakukan mobilitas ke atas, menumbuhkan perilaku masyara-kat miskin agar mereka mandiri dan produktif dalam memenuhi kebutuh-an hidup, berorientasi pada kesetaraan, dan membutuh-kan iklim demokrasi yang benar-benar menjamin hak-hak masyara-kat miskin dari kemungkinan intervensi pihak-pihak yang berkua-sa .

 

Daftar Pustaka

 

Alfian, Melly G. Tan, dan Selo Soemardjan, Kemiskinan Stru-ktural, (Jakarta: YIIS, 1980).

 

Chambers, Robert, Pembangunan Desa, Mulai Dari Belakang, (Jakarta: LP3ES, 1987).

 

Dewanta, Awan Setya (ed.). Kemis-kinan dan Kesenjangan di Indonesia, (Yogyakarta: Aditya Media, 1995).

 

Dillon, HS. Pertanian Membangun Bangsa, (Jakarta: Sinar Hara-pan, 1999).

 

Hayami, Yijiro dan Masao Kikuchi, Dilema Ekonomi Desa, Suatu Pendekatan Ekonomi terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987).

 

Korten, D. C. dan Sjahrir, Pemba-ngunan Berdimensi Kerakyat-an, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988).

 

Mubyarto & Edy Suandi Hamid, 1986. Kredit Pedesaan di Indonesia. (Yogyakarta: BPFE)

 

Rahardjo, M. Dawam, Transformasi Pertanian, Industrialisasi, dan Kesem-patan Kerja, (Jakarta: UI Press, 1984).

 

Scott, James C., Moral Ekonomi Petani, Pergolakan dan Subsis-tensi di Asia Tenggara, (Jakar-ta: LP3ES, 1981).

 

Suyanto, Bagong & Karnaji. Pengka-jiaan dan Pengembangan Im-plementasi GERDU TASKIN Di Desa Pantai dan Rural di Jawa Timur.  (Surabaya: Lut-fansa, 2000).

 

Suyanto, Bagong & Septi Ariadi. KUT: Solusi Atau Masalah bagi Petani. Kerjasama FISIP Unair dengan Balitbang Jawa Ti-mur, 2001.

 

Sumodiningrat, Gunawan. Pember-dayaan Masyarakat & JPS. (Jakarta: Gramedia, 1999).


 

 

 1 Korespondensi: B. Suyanto, Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Alamat: Jalan Dharmawangsa Dalam Surabaya, Telepon: (031) 5011744

 

 

Last Updated ( Tuesday, 10 May 2011 02:00 )
 
RocketTheme Joomla Templates