Renat running text

Key Concepts

Anti Right Click (Hide this by setting Show Title to No in the Module Manager)

DAMPAK URBANISASI TERHADAP MASYARAKAT DI DAERAH ASAL PDF Print E-mail
Written by Tri Joko S. Haryono   
Friday, 19 November 2010 08:59

JURNAL MASYARAKAT KEBUDAYAAN DAN POLITIK

Volume 12, Nomor 4: 67-78

 

 

Dampak Urbanisasi Terhadap Masyarakat di Desa Asal

 

Tri Joko S. Haryono*

 Departemen Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga

Pendahuluan

          Kecenderungan yang terjadi dalam perkem-bangan kota-kota di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, adalah adanya pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, yang seringkali tidak lagi dapat diantisipasi oleh daya dukung kota secara layak, terutama dalam hal penyediaan fasilitas-fasilitas kehidupan bagi warganya. Pesatnya pertumbuhan penduduk kota tersebut di samping terjadi karena pertumbuhan yang bersifat alami, terutama juga disebabkan oleh arus urbanisasi. Meningkatnya arus urbanisasi tersebut nampaknya berseiring banyaknya pusat-pusat perekonomian yang dibangun di daerah perkotaan, terutama dalam bidang industrialisasi. Peningkatan pertumbuhan penduduk perkotaan akan menimbulkan berbagai permasalahan serta membawa konsekuensi dalam segala aspek kehidupan di perkotaan. Banyak kota besar yang dalam kenyataannya tidak mampu lagi menyediakan pelayanan sanitasi, kesehatan, perumahan, transportasi, dan lapangan kerja lebih dari yang minimal kepada sebagian penduduknya.

Di Indonesia, gejala urbanisasi mulai tampak menonjol sejak tahun 1970-an, di saat pembangunan sedang digalakkan, ter-utama di kota-kota besar. Beberapa faktor disinyalir menjadi pendorong meningkatnya arus urbanisasi, di antaranya: (1) perbedaan pertumbuhan dan ketidakmerataan fasilitas antara desa dengan kota dalam berbagai aspek kehidupan (Saefullah, 1994:35); (2) semakin meluas dan membaiknya sarana dan prasarana transportasi, (3) pertumbuhan industri di kota-kota besar yang banyak membuka peluang kerja, (4) pembangunan pertanian, khususnya melalui paket program revolusi hijau (Hugo, 1975). Tetapi pada umumnya faktor ekonomi dianggap sebagai faktor  utama menjadi pendorong arus urbanisasi.

Berkaitan dengan faktor pembangun-an pertanian di atas, beberapa ahli melihat bahwa selama ini usaha pembangunan pede-saan yang diharapkan mampu membendung arus urbanisasi umumnya tidak terlalu ber-hasil dalam banyak hal, bahkan justru me-macu arus urbanisasi menjadi semakin besar. Beberapa peneliti seperti Collier (1974), Mantra (1980), dan White (1989) menemukan modernisasi pertanian di pede-saan Jawa ternyata merangsang gerak pen-duduk ke luar desa, terutama pada petani gurem dan buruh tani. Hal ini disebabkan pembangunan pertanian dengan teknologi yang lebih modern justru telah mening-katkan jumlah buruh tani yang tidak ber-tanah, sehingga mendorong terjadinya po-larisasi sosial. Collier (1974:12-30) berdalih revolusi hijau hanya membuka kesempatan yang lebih luas kepada petani yang berlahan luas dalam menerima teknologi, sehingga mereka sebagai kelas komersial menga-baikan loyalitasnya kepada petani miskin. Lambat laun masyarakat desa menjadi semakin terpolarisasi (Amaluddin, 1987:30).

Akibat yang muncul kemudian dengan terjadinya polarisasi tersebut adalah  banyak masyarakat pedesaan, baik dengan sukarela maupun terpaksa, keluar dari desa tempat kelahirannya dan pergi mengadu nasib mencari pekerjaan di kota karena semakin sempitnya lapangan kerja yang tersedia di desa. Beberapa peneliti seperti Mantra (1980) dan McGee (1982) menyatakan mobilitas penduduk merupakan salah satu strategi yang penting bagi rumah tangga pedesaan untuk mendapatkan dan menaikan penghasilan mereka. Hugo (1986) menyatakan motif migrasi, khususnya migrasi sirkuler dan migrasi pulang-balik adalah untuk meningkatkan pendapatan keluarga yang menetap di desa. Gejala ini menonjol terutama desa yang kurang maju atau desa di mana kesempatan kerja yang ada sangat terbatas. Dikatakan Effendi (1985) bahwa mobilitas penduduk berfungsi sebagai salah satu sarana penduduk desa untuk ikut menikmati buah pembangunan.

Urbanisasi sebagai gejala sosial, ekonomi, dan budaya ternyata menyajikan cerita yang menarik tidak saja menyangkut kota besar di mana para migran berdatang-an, namun juga menyangkut desa asal migran. Hal ini disebabkan oleh sikap kaum migran yang secara kultural masih tetap sebagai orang desa, walaupun mereka telah puluhan tahun hidup di kota. Anggapan dan sikap bahwa mereka hidup di kotakota, pada umumnya masih mengadakan hubungan, bahkan mengirimkan sebagian penghasilannya ke desa. Namun bila disi-mak lebih mendalam, keberadaan urbanisasi ternyata tidak selalu membawa akibat yang menguntungkan bagi warga pedesaan. hanya sementara waktu, tidak hanya ditunjukkan dalam hal kualitas tersebut, melainkan mereka juga membangun ekonomi desanya. Saefullah (1994) berdasarkan penelitian di Jawa Barat, menunjukkan kenyataan urbanisasi mempunyai andil yang cukup besar terhadap proses pembangunan baik di daerah asal maupun daerah tujuan. Orang-orang desa yang telah “berhasil” hidupnya di

Penelitian atau studi urbanisasi telah banyak dilakukan, yang umumnya lebih me-nyoroti pola adaptasi yang dilakukan para pendatang setibanya mereka di perkotaan; dan juga besarnya arus urbanisasi sebagai akibat kesenjangan kondisi sosial ekonomi yang cukup menonjol antara daerah pedesa-an dengan perkotaan. Kesenjangan yang ter-jadi antara daerah pedesaan dan perkotaan pada gilirannya mendorong penduduk pedesaan untuk mencari alternatif lain guna meningkatkan penghasilan atau menikmati fasilitas yang ada di daerah perkotaan.

Sementara itu studi yang berkaitan dengan perubahan pada daerah asal migran belum banyak dilakukan. Studi ini akan melihat proses urbanisasi yang terjadi dari salah satu desa di Sukoharjo, Jawa Tengah yang sebagian penduduknya berurbanisasi, terutama ke Jakarta; dengan lebih menekan-kan pada dampak yang ditimbulkan dengan adanya urbanisasi pada desa asal.

 

Urbanisasi Penduduk Desa Jetis

Desa Jetis merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Terletak kira-kira sejauh dua kilometer di sebelah utara kota kecamatan, dan enam kilometer di sebelah selatan kota kabupaten, sedangkan dengan Kota Solo kira-kira berjarak 20 kilometer. Dari segi transportasi, ada beberapa jalur jalan yang menghubungkan desa Jetis dengan desa-desa di sekitarnya. Sebagian prasarana jalan tersebut telah diaspal, dan sebagian lain berupa jalan makadam.

Seperti umumnya desa-desa di Jawa, Jetis adalah desa pertanian. Menurut data monografi desa, luas Desa Jetis adalah 256, 77 hektar, terdiri dari: (1) persawahan 89,92 hektar; (2) pekarangan/pemukiman 89,48 hektar; (3) tegalan 67,81 hektar; dan (4) lain-lain (jalan, sungai, dsb) seluas 3,53 hektar. Apabila jumlah kepala keluarga di Desa Jetis ada 632 kk, maka rata-rata pemilikan tanah bagi setiap keluarga adalah 0,37 hektar, dan bila jumlah penduduknya ada 3427 orang maka pemilikan tanah rata-rata tiap orang adalah 0,069 hektar. Bila mengacu pengertian cukupan seperti yang dikatakan Singarimbun (1976:25) bahwa seseorang dapat kecukupan kehidupannya jika dapat mengolah 0,7 hektar sawah tadah hujan, dan sebidang tanah darat 0, 3 hektar, maka keadaan penduduk di Desa Jetis dapat dikatakan amat kekurangan tanah pertanian. Kondisi yang memprihatinkan ini ditunjang pola pemilikannya yang tidak merata. Hanya sebagian kecil penduduk yang memiliki tanah lebih dari satu hektar, sementara sebagian besar penduduk merupakan petani gurem atau bertanah sempit, bahkan banyak di antaranya yang tidak memiliki tanah persawahan sama sekali.

Dengan kondisi tanah pertanian yang demikian menyebabkan masyarakat Desa Jetis tidak dapat terlalu mengandalkan kehidupannya hanya dari sektor pertanian. Nampaknya sejarah kehidupan penduduk desa Jetis menunjukkan hal yang demikian. Hal ini bisa dilihat bahwa sejak tahun 1950-an di desa Jetis telah berkembang suatu kegiatan di luar bidang pertanian, yaitu dalam bentuk industri tenun. Industri tenun ini mencapai puncak kejayaanya pada sekitar tahun 1962, di mana saat itu di Desa Jetis ada sekitar 35 perusahaan tenun, dengan jumlah sekitar 550 unit tenun, dan dengan melibatkan sekitar 750 orang tenaga kerja. Masa itu penduduk Desa Jetis mengalami masa kemakmuran, bahkan juga menjadi tumpuan untuk mencari nafkah bagi pekerja dari desa-desa di sekitarnya, karena pekerja yang tertampung pada industri tenun tidak hanya penduduk Desa Jetis, tetapi juga penduduk desa-desa sekitar.

Karena berbagai sebab, sejak dekade 1960-an industri tenun di Desa Jetis mulai mengalami kemunduran, dan mencapai kemacetan total pada sekitar sekitar pertengahan tahun 1970-an. Kemacetan total industri tenun di desa Jetis saat itu membawa perubahan besar bagi sebagian besar penduduknya, baik pada pengusaha maupun pekerjanya. Sebagian ada yang kembali bekerja sebagai petani, ada yang menjadi pedagang, tetapi yang paling banyak adalah meninggalkan desa mengadu nasib dengan berurbanisasi ke kota.

Dengan demikian untuk kasus Desa Jetis, faktor urbanisasi antara lain dapat dilihat karena tidak adanya lapangan kerja di desa selepas mereka bekerja sebagai buruh industri. Memang ada sawah, tetapi berhubung sempitnya lahan pertanian tidak memungkinkan mereka secara keseluruhan bekerja di sektor pertanian, apalagi mereka umumnya sudah lama atau bahkan ada yang sebelumnya tidak pernah mengenal kegiatan bertani. Faktor yang lain adalah, adanya daya tarik kota. Daya tarik tersebut muncul karena pada saat industri tenun masih ber-jalan, telah ada beberapa orang Desa Jetis yang berurbanisasi, terutama ke Jakarta. Pada saat pulang ke desa, mereka mencerita-kan berbagai pengalaman hidupnya di kota besar. Cerita itu banyak menarik orang untuk ikut pergi ke kota, apalagi kondisi industri tenun tidak dapat diharapkan lagi.

Sejak saat itu arus urbanisasi terus mengalir ke kota-kota besar baik di Jawa maupun luar Jawa. Mengenai jumlah dan tujuan mereka berurbanisasi, ternyata tidak ada data atau catatan yang resmi. Namun demikian berdasarkan penjelasan beberapa informan, termasuk kepala desa, diketahui bahwa sejarah perjalanan urbanisasi yang terjadi sejak tahun 1970-an menyebabkan ada sekitar separoh penduduk Desa Jetis yang melakukan urbanisasi, dan mereka itu umumnya pada usia produktif. Yang kini tinggal di Desa Jetis, sebagian besar adalah orang-orang yang sudah tua, yang ditinggal pergi anak-anak; atau sebaliknya anak-anak yang masih kecil yang ditinggalkan oleh orangtuanya. Memang ada beberapa yang masih yang masih muda dan produktif yang tinggal, mereka umumnya juga tidak bekerja di bidang pertanian melainkan pada peker-jaan-pekerjaan sebagai pegawai negeri, pe-dagang, atau bekerja pada industri tekstil yang ada di kota kabupaten. Sebagian besar di antara mereka pernah mencoba, tetapi mereka gagal atau merasa tidak cocok hidup di kota, dan memilih tinggal di desa.

Berdasarkan keterangan beberapa in-forman, kota tujuan urbanisasi sebagian be-sar adalah Jakarta, dan sebagian kecil di Semarang, Serang, Bangka, Belitung, Pang-kal Pinang, Medan, Balikpapan, dan bebe-rapa kota di Jawa Tengah. Sementara itu jenis pekerjaan yang dilakukan umumnya adalah pada sektor-sektor informal seperti penjual bakso, penjual jamu, penjual buah dingin, tukang ojek, sopir taksi, sopir bajaj, atau sebagai pekerja perusahaan. Hanya sedikit penduduk Desa Jetis yang berurbani-sasi yang bekerja sebagai pegawai pemerin-tah atau pada sektor formal yang lain. Sedangkan mengenai frekuensi kepulangan ke daerah asal, amat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, jauh dekatnya kota tujuan urbanisasi, dalam hal ini semakin jauh tempat tujuan akan semakin jarang pulang ke desanya. Kedua, tanggungan keluarga yang ada di desa, dalam hal ini yang memiliki tanggungan keluarga di desa frekuensi kepulangannya cenderung lebih sering dilakukan. Namun demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa setidaknya setahun sekali  mereka pulang ke desanya, yaitu pada saat lebaran.

Satu hal yang menarik dalam kasus urbanisasi ini adanya variasi dalam pola urbanisasi penduduk Desa Jetis. Pertama, ada yang berniat melakukan urbanisasi secara permanen. Mereka ingin menjadi penduduk kota sepenuhnya, sehingga mereka membawa serta seluruh anggota keluarganya. Pada kelompok ini umumnya adalah mereka yang memiliki status sosial ekonomi lebih baik, dan dengan pekerjaan yang lebih mapan, serta bekerja pada sektor formal. Misalnya sebagai pegawai negeri, pegawai perusahaan, atau pada sektor formal yang lain. Kedua, yang merupakan bagian yang lebih besar, mereka cenderung merupakan migran sirkuler. Artinya sekali-pun mereka sudah puluhan tahun tinggal di kota, tetapi secara kultural mereka masih menunjukkan sikap pedesaan. Mereka mera-sa bahwa bekerja di kota hanya bersifat sementara, mereka ingin kembali ke desanya suatu saat kelak. Gejala ini diperkuat oleh adanya kenyataan masih banyak keluarga muda yang dengan sukarela atau terpaksa meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil di desa.

Satu kasus yang pernah ditemui, yaitu ada keluarga muda yang berurbanisasi, yang memiliki tiga orang anak yang masih kecil, di mana ketiga anaknya tersebut tersebar dalam tiga tempat. Anak pertama, kelas tiga SD tinggal di rumah sendirian; anak kedua yang masih TK nol kecil dititipkan kepada neneknya yang tinggal di desa lain yang lokasinya cukup jauh dari Desa Jetis; dan anak ketiga berusia sekitar satu tahun dibawanya ke Jakarta tinggal bersama mereka.

Sikap kedesaan mereka juga diper-jelas dengan adanya kenyataan simpanan kekayaan mereka di desa. Sebagai misal mereka menggunakan uangnya untuk mem-bangun rumah atau membeli sawah di desanya. Sementara   di kota mereka tinggal secara berdesak-desakan di rumah-rumah kumuh. Dari segi ini terlihat adanya kondisi yang bertolakbelakang,  di desa mereka sebenarnya memiliki rumah yang bagus dengan perlengkapan perabotan rumah tangga yang bagus, dan rumah tersebut untuk sementara, mungkin juga dalam waktu yang cukup lama, tidak dihuni; sebaliknya ketika di kota, khususnya Jakarta mereka tinggal secara berdesakan di rumah-rumah kumuh, dengan kondisi pemukiman yang kurang memenuhi syarat untuk tempat tinggal. Pada hal sebagian besar hidup mereka berada di kota.

 

Dampak Urbanisasi terhadap Daerah Asal

Sebelum dilakukan pembahasan tentang dampak urbanisasi terhadap kehidupan masyarakat daerah asal, ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu secara sepintas tentang liku-liku kehidupan mereka di kota tujuan. Penjelasan yang dikemuka-kan di dasarkan atas wawancara mendalam dengan beberapa informan dan juga atas pengamatan dalam beberapa kali kunjungan di tempat tinggal mereka di kota, khususnya yang ada di Jakarta.

Sebagai pendatang  di kota besar,  mereka perlu   proses adaptasi, untuk bisa bertahan hidup di kota. Dalam proses adaptasi pada berbagai aspek kehidupan di kota ini, peranan kerabat, teman, dan tetangga sedesa asal sangat penting. Pada awal kedatangan di kota umumnya mereka menumpang untuk sementara di tempat tinggal orang-orang yang telah terlebih dahulu berurbanisasi. Sedangkan dalam hal pekerjaan seringkali mereka magang terlebih dahulu kepada “seniornya” dengan cara mengikuti dan membantu pekerjaan yang dilakukan “seniornya” tersebut. Bila dirasa sudah mampu   barulah  dilepas untuk bekerja sendiri.

Dengan latar belakang pendidikan yang relatif  rendah, umumnya  hanya berpendidikan sekolah dasar, dan keterbatasan  ketrampilan modern yang memadai, sebagian besar dari mereka melakukan pekerjaan dalam bentuk usaha mandiri kecil-kecilan, dengan meng-gunakan peralatan dan ketrampilan seder-hana yang dikuasainya. Mereka bekerja se-bagai pedagang keliling seperti penjual bakso, mie ayam, buah dingin, es, soto ayam, jamu, atau mainan anak-anak; peda-gang kaki lima; tukang ojek; pengemudi bajaj; atau pekerjaan-pekerjaan lain yang umumnya merupakan bagian dari sektor informal di kota. Kemudahan memasuki la-pangan kerja di sektor informal nampaknya menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka umumnya memasuki sektor ini.

Mereka beranggapan hi-dup di kota hanya untuk sementara waktu, sekalipun sebenarnya telah tinggal di kota puluhan tahun. Mereka masih tetap merasa sebagai orang desa, bahkan dari segi status kependudukan secara formal pun masih sebagai orang desa, hal ini ditunjukkan dari pemilikan KTP mereka. Dalam hal tempat tinggalpun mereka umumnya tidak pernah berfikir untuk memiliki tempat tinggal sendiri di kota, sehingga umumnya mereka kost atau kontrak kamar secara patungan satu kamar dihuni beberapa orang. Pengamatan yang dilakukan terhadap bebe-rapa lokasi menunjukkan bahwa tempat tinggal mereka umumnya nampak berjubel, sumpek, pengap, panas, dan umumnya ku-rang memenuhi syarat kesehatan. Terkesan bahwa rumah atau kamar yang mereka tempati di kota hanya untuk tempat tinggal sementara, sekedar tempat untuk beristira-hat. Pemilihan tempat tinggal yang demikian barangkali terkait dengan mahalnya sewa rumah/kamar di kota. Yang menarik bahwa tempat tinggal mereka di kota ini seringkali sangat bertolakbelakang dengan kondisi rumah yang mereka miliki di desa yang umumnya dibangun secara bagus. Hal ini akan dijelaskan pada bagian berikut.

Orang-orang Desa Jetis yang telah “berhasil” hidupnya di kota, pada umumnya masih mengadakan hubungan dengan desa asal, bahkan mengirimkan sebagian pengha-silannya ke desa asal. Namun bila disimak lebih mendalam, keberadaan urbanisasi ternyata tidak selalu membawa akibat yang menguntungkan bagi warga pedesaan.

 

Dampak Urbanisasi dalam Aspek Sosial Ekonomi

Sekalipun para urbanisan umumnya bekerja di sektor informal, tetapi dari segi penghasilan, dapat dikatakan cukup lumayan. Paling tidak, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan peng-hasilan yang bisa diperoleh di desa asalnya. Menurut I nforman, seorang penjual jamu dalam sehari  memperoleh penghasilan Rp 20.000,- atau lebih, demikian juga pedagang yang lain pendapatan yang diperoleh tidak kurang dari Rp 10.000,- per hari. Upah sebagai buruh tani di desa paling tinggi Rp 5000,-. Peng-hasilan yang diperoleh para migran asal Desa Jetis nampaknya sesuai dengan temuan Papanek (1986:230) yang menunjukkan bahwa para migran ke kota umumnya bernasib lebih baik daripada ketika masih di pedesaan. Pendapatan mereka rata-rata meningkat dua pertiga kali lipat.

Tingginya kesenjangan pendapatan antara yang diperoleh di desa dengan di kota inilah barangkali yang menjadi penyebab utama banyaknya penduduk Desa Jetis melakukan urbanisasi. Temuan di atas nampaknya sejalan dengan pemikiran (Todaro, 1970:126) yang menyatakan bahwa keputusan bermigrasi merupakan suatu respons terhadap harapan tentang penghasil-an yang akan diperoleh di kota dibanding dengan yang diterima di desa, dan kemung-kinan memperoleh pekerjaan di kota.

Dijelaskan oleh beberapa informan bahwa tidak semua yang berurbanisasi dapat atau berhasil meningkatkan kehidupannya, ada di antaranya yang gagal sehingga memilih kembali tinggal di desa, namun tidak sedikit yang masih tetap bertahan tinggal di kota, meski dengan kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga hampir tidak mampu untuk menyisihkan sebagian peng-hasilannya untuk ditabung. Secara lebih detail dapat dikemukakan tentang dampak urbanisasi dalam aspek sosial ekonomi.

Pertama, keberhasilan para migran yang melakukan urbanisasi dalam meningkatkan pendapatannya sebagian digunakan untuk membangun rumah di desa. Kenyataan itu dapat dilihat di desa Jetis, seperti misalnya banyak pembangunan rumah-rumah baru yang lebih permanen dan memenuhi syarat kesehatan. Rumah-rumah baru yang mereka bangun tersebut telah dilengkapi dengan perabotan rumah tangga modern, misalnya TV, Radio tape, kulkas, sepeda motor, dsb. Kemampuan untuk membangun rumah baru dan membeli perlengkapan rumah tangga ini tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing migran. Berdasarkan pengamatan ada rumah yang dibangun bertingkat, pada hal menurut informasi pemilik rumah tidak lulus SD, dan bekerja sebagai pedagang di Jakarta. Kondisi tempat tinggal yang mereka miliki di desa ini seringkali bertolak belakang dengan kondisi tempat tinggal mereka selama hidup di kota, sebagaimana telah disinggung terdahulu.

Rumah-rumah baru umumnya dibangun dengan arsitektur model, akibatnya berdampak pada pembongkaran rumah tradisional yang kemudian dirubah menjadi model baru. Hal ini amat disayangkan karena rumah-rumah dengan arsitektur tradisional yang sebagian besar bahannya terbuat dari kayu semakin berkurang jumlahnya, dan dikhawatirkan nantinya akan semakin langka.

Kelebihan penghasilan yang diwu-judkan dalam bentuk bangunan rumah ini juga menunjukkan keterbatasan imajinasi budaya mereka. Barangkali dilihat dari kacamata pemikiran rasional ekonomis, kelebihan penghasilan itu dapat digunakan oleh mereka untuk memperkuat modal usaha, tetapi hal ini nampaknya tidak banyak dilakukan oleh penduduk desa Jetis. Kelebihan penghasilan justru mereka guna-kan untuk membangun rumah baru di desa sementara mereka sendiri bekerja di kota, sehingga rumah-rumah yang telah terbangun megah tersebut ada yang tidak berpenghuni, atau hanya dihuni di saat mereka pulang kampung saja; tetapi ada juga yang ditem-pati oleh anak-anaknya saja sementara orang tuanya berada di kota; dan ada juga meminta kerabatnya, biasanya yang sudah tua, atau orangtuanya untuk menunggui rumah. Beberapa rumah bahkan ditempati orang dari luar daerah yang bekerja di sekitar desa, sementara mereka belum memiliki rumah sendiri. Dalam kasus demikian, biasanya mereka tidak diminta untuk membayar sewa rumah, melainkan hanya diminta merawat selama menempati rumah tersebut.

Kedua, ada yang memiliki kemam-puan untuk menginvestasikan kelebihan penghasilannya dalam bentuk sawah dan pekarangan di desa. Hal ini dipandang se-bagai dampak positif, artinya mereka telah mempunyai orientasi ke masa depan. Keinginaan menginvestasikan uang dalam bentuk tanah dan pekarangan di desa asal ini berkait dengan keinginan sebagian besar migran yang nantinya setelah tua mereka kembali ke desa.

Ketiga, keberhasilan migran di kota memberikan dampak pada kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan. Dengan kelebih-an penghasilan selama mereka bekerja di kota, akan berimbas pada keluarganya yang ditinggal di desa, sehingga dari segi peme-nuhan kebutuhan hidup menjadi lebih baik. Sebagai orang desa yang hidup dalam kea-daan subsistensi, ukuran kesejahteraan bagi mereka adalah terpenuhinya kebutuhan hi-dup mereka secara ekonomi, apalagi bila ada kelebihan penghasilan yang dapat diin-vestasikan dalam bentuk lain. Bagi mereka, nampaknya tidak terlalu mempersoalkan apakah mereka berkumpul terus dengan keluarganya atau tidak, yang dipentingkan adalah terpenuhinya kebutuhan ekonomi. Hal ini dibuktikan dari ungkapan beberapa informan yang menyatakan bahwa dewasa ini mereka merasa lebih sejahtera dan lebih tenteran hidupnya, sekalipun harus berpisah sementara dengan keluarganya.

Keempat, keberhasilan meningkat-kan penghasilan ini juga berdampak pada perbaikan fasilitas umum yang pembiaya-annya dilakukan secara swadaya. Dana untuk membangun fasilitas umum tersebut sebagian besar diperoleh dari pen-duduk yang melakukan urbanisasi. Berbagai fasilitas umum yang mengalami perbaikan di antaranya jalan-jalan desa yang sebagaian besar sudah diaspal, jembatan, dan tempat peribadatan. Dengan perbaikan prasarana jalan ini akan sedikit banyak mempengaruhi perekonomian desa.

Kelima, dalam bidang pertanian, ke-berhasilan dalam urbanisasi ini membawa dampak yang kurang mengun-tungkan. Kegiatan pertanian yang kurang diperhatikan sejak keber-hasilan penduduk Desa Jetis dalam bidang industri tenun pada beberapa dekade sebelumnya terus berlanjut hingga sekarang, apalagi sebagian penduduk berurbanisasi. Pada saat industri tenun masih jaya, banyak di antara pemilik sawah yang juga sebagai pengusaha tenun tidak mengerjakan sendiri sawah miliknya, karena penghasilan yang diperoleh waktu itu lebih kecil dibanding penghasilan dalam bidang industri tenun. Demikian juga penghasilan sebagai buruh tani lebih kecil dibanding sebagai buruh industri. Akibatnya pekerjaan di bidang pertanian lebih banyak dilakukan dengan mendatangkan buruh dari luar daerah. Saat ini, keberhasilan urbanisasi menyebabkan mere-ka semakin enggan pergi ke sawah, apalagi untuk generasi mudanya yang umumnya hampir tidak pernah bekerja di bidang pertanian. Karena itu, dewasa ini kesulitan yang dihadapi pemilik sawah adalah men-cari buruh tani, karena desa-desa lain di sekitarnya banyak warganya yang sekarang juga melakukan urbanisasi. Akibatnya, para pemilik sawah seringkali harus menda-tangkan buruh tani dari wilayah Kabupaten Purwodadi untuk menggarap sawahnya. Bahkan kadang-kadang ada sawah milik warga Desa Jetis yang terpaksa terbengkelai tidak tergarap karena kesulitan mencari buruh tani untuk menggarapnya.

 

Dampak Urbanisasi dalam Aspek Sosial-Budaya

Perbincangan mengenai akibat urbanisasi bagi masyarakat desa, selama ini lebih banyak mengungkapkan pada aspek sosial ekonomi, sementara sorotan terhadap aspek sosial budaya dirasakan masih kurang. Pada hal sebagaimana dinyatakan beberapa ahli seperti Zelinsky (1971:222) dan Lewis (1982:168) bahwa mobilitas penduduk me-megang peranan penting dalam perubahan sosial-budaya dengan cara membawa ma-syarakat dari kehidupan tradisional ke sua-sana dan cara hidup modern yang dibawa dari luar. Perubahan tersebut termasuk per-geseran nilai dan norma serta jaringan dan pola hubungan kekerabatan di pedesaan.

Sebenarnya tidaklah mudah menge-mukakan perubahan yang terjadi pada aspek sosial budaya ini, karena tidak begitu nampak secara nyata seperti halnya pada perubahan sosial ekonomi. Sehingga untuk mengetahuinya diperlukan pengamatan yang agak intensif dan wawancara mendalam dengan beberapa tokoh masyarakat yang benar-benar menguasai pemasalahan. Bebe-rapa perubahan dalam aspek sosial budaya antara lain tersebut di bawah ini.

Pertama, perubahan yang paling nampak dalam aspek sosial budaya adalah dalam bidang pendidikan. Beberapa infor-man mengemukakan bahwa sejak sekitar dua puluh tahun terakhir ini, yaitu sejak berangsurnya penduduk Desa Jetis melaku-kan urbanisasi, maka kesadaran penduduk untuk menyekolahkan semakin meningkat. Bila pada tahun 1970-an kebanyakan orang tua hanya menyekolahkan hingga tamat SD, dan sangat sedikit yang menyekolahkan hingga sekolah lanjutan, kini sebagian besar telah menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang sekolah lanjutan atas, bahkan hingga perguruan tinggi. Di desa Jetis, tidaklah aneh bila orang tuanya   bekerja di kota sebagai pedagang bakso, sementara anaknya kuliah di perguruan tinggi. Tanpa mengabaikan pengaruh varia-bel lain, misalnya fasilitas pendidikan yang semakin banyak hingga ke pelosok desa, urbanisasi berdampak pada peningkatan kesadaran menyekolahkan anak, wawasan dan pemikiran semakin terbuka setelah ba-nyak berhubungan dengan masyarakat luar, dan melihat perkembangan pembangunan yang terjadi di tempat lain. Apalagi ke-sadaran ini semakin ditunjang peningkatan pendapatan sehingga mereka mampu membiayai pendidikan anaknya.

Kedua, urbanisasi juga berdampak pada perubahan peranan dan tanggung jawab wanita. Kenyataan ini terutama nampak pada wanita yang ditinggal suaminya bekerja di kota, mereka harus bertindak sebagai kepala rumah tangga selama suaminya tidak ada di rumah. Wanita tidak hanya bertanggung jawab atas kegiatan di dalam rumah tangga, tetapi juga harus melakukan kegiatan kemasyarakatan atas nama suami.  Secara tidak langsung mengubah kebiasaan menempat-kan kaum wanita hanya sebagai ibu rumah tangga serta berurusan dengan kegiatan wanita saja. Sebagaimana program pemerintah yang menuntut kaum wanita untuk turut serta dalam kegiatan di luar rumah tangga.

Ketiga, dampak urbanisasi juga ter-lihat pada kelembagaan keluarga, khususnya dalam sistem perkawinan, di mana sekarang ini orang tua tidak lagi dominan dalam menentukan pilihan jodoh bagi anaknya. Dalam kasus di Desa Jetis ini, banyak di antara pemuda-pemudinya yang memperoleh pasangan hidup dari luar daerah atas dasar pilihannya sendiri, dan kebanyakan jodohnya tersebut diperoleh di kota tempat mereka bekerja. Dampak lain adalah semakin meningkatnya usia perka-winan. Kalau pada tahun 1970-an anak gadis yang belum berumur 18 tahun sudah di-nikahkan, kini umur kawin telah meningkat dan cenderung “diprogram” oleh mereka sendiri.

Keempat, urbanisasi memberikan pengaruh pada meluasnya kerangka pemi-kiran penduduk desa serta mengubah perilaku masyarakat dari orientasi sosial ke orientasi komersial. Dalam hal ini telah terjadi perubahan apresiasi nilai uang pada seluruh warga desa, atau dengan kata lain meminjam istilah beberapa ahli, di desa tersebut telah terjadi monetisasi dan komersialisasi aktivitas yang semula bersifat sosial. Kegiatan gotong-royong yang selama ini dipandang merupakan aktivitas luhur yang kita banggakan kini semakin luntur. Contoh nyata dalam hal ini adalah bahwa dewasa ini kegiatan memperbaiki rumah, membangun pagar, membuat sumur, dan kegiatan-kegiatan lain di sekitar rumah tangga sekarang tidak lagi dilakukan dengan cara sambatan atau tolong-menolong antar tetangga, melainkan dilakukan dengan membayar tenaga tukang.

Kelima, dari segi hubungan kekera-batan, urbanisasi sering diasosiasikan dengan melemahnya atau longgar-nya hubungan kekerabatan. Dengan kata lain, makin meningkat kegiatan mobilitas penduduk akan semakin melonggarkan ke-terikatan mereka dengan kehidupan pen-duduk setempat. Lemahnya hubungan keke-rabatan sebenarnya tergantung dari persepsi yang diberikan. Secara fisik, memang kepergian mereka ke luar desa mengaki-batkan semakin berkurangnya kesempatan mereka untuk mengikuti acara atau peris-tiwa sosial di desa. Tetapi secara batiniah hubungan dan ikatan dengan daerah asal itu ada beragam perilaku. Ada yang memang merasa masih memiliki ikatan kuat dengan kerabatnya di desa. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku kepulangan mereka setiap saat ke desa asal. Tetapi ada pula yang sudah mulai “ogah-ogahan” pulang ke desa, dan dengan demikian ikatan kekerabatan juga sudah melonggar.

Keenam, secara sosial, urbanisasi akan berpengaruh pada kesejahteraan ke-luarga migran yang bersangkutan. Hal ini berkait dengan kehidupan keluarga mereka yang terpaksa harus hidup terpisah sampai jangka waktu yang tidak diketahui batasnya. Sekalipun mereka pada waktu-waktu ter-tentu pulang ke desa, namun kese-jahteraan keluarga akan lebih terjamin bila mereka selalu berkumpul dalam satu rumah. Namun demikian, hal ini nampaknya tidak terlalu dirisaukan oleh orang desa, sebagai masyarakat desa yang biasa hidup sub-sistensi, nampaknya pemenuhan kebutuhan ekonomi lebih mendominasi pemikiran mereka dalam soal kesejahteraan hidupnya.

Ketujuh, orang-orang “sukses” di kota ini dapat menumbuhkan kemampuan dan keinginan untuk berkompetisi atau bersaing. Dari sisi positif kompetisi dan persaingan ini akan sehat dan baik apabila mendorong mereka terpacu dan semakin giat bekerja, sehingga keberhasilan ini akan semakin dapat dirasakan penduduk desa. Di sisi lain kompetisi dan persaingan ini akan menjadi tidak sehat karena membuahkan perilaku budaya baru yang disebut dengan budaya “pamer” dengan menggunakan ke-kuatan ekonomi. Karena budaya “pamer” ini tidak sesuai dengan budaya Jawa yang berusaha untuk konform dengan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, orang mencari penga-kuan dan kehormatan melalui kekayaannya. Data di atas sesuai dengan sinyalemen Saefullah (1994:40) yang menyatakan penggunaan uang untuk membeli tanah, mendirikan rumah, membeli sepeda motor, dan alat-alat rumah tangga modern tam-paknya terdorong oleh apirasi mobilitas sosial.

Kedelapan, pengaruh urbanisasi juga nampak pada kebiasaan berpakaian dan makan. Perubahan dalam hal berpakaian tidak semata-mata karena evolusi alamiah, melainkan juga karena ada kontak dengan dunia luar atau ada pihak yang memper-kenalkan. Media massa dan iklan dapat mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berpakaian dan makan, tetapi dampaknya tidak akan efektif apabila tidak ada orang yang memberikan contoh nyata dalam kesehariannya. Setelah melihat cara-cara baru berpakaian dan mengenal macam-macam makanan modern sekembalinya ke desa diperlihatkan kepada orang-orang desa.

Kesembilan, perubahan juga nampak pada pergaulan remaja, serta interaksi antara generasi muda dengan orang tua. Dari sisi positif, urbanisasi mendorong penduduk untuk memperluas pergaulan dan penga-laman, dengan akibat lebih lanjut pada keinginan mereka untuk meningkatkan ke-mampuan diri. Sedangkan di pihak lain sebagian remaja yang pergi ke kota mem-bawa kebiasaan baru yang bersifat negatif yang diperolehnya di kota seperti minum-minuman yang mengandung alkohol, ber-judi. Dampak negatif yang lain adalah mulai berkurangnya penghormatan terhadap orang tua. Memang hanya sedikit warga Desa Jetis yang melakukan kegiatan negatif semacam itu, meskipun demikian perilakunya dapat mengganggu kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal interaksi antara generasi muda dengn orang tua seringkali ditemui adanya kesenjangan, baik dalam hal nilai, norma dan berakibat pada perilaku kesehariannya.

Kesimpulan dan Implikasi

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpul-kan bahwa urbanisasi yang dilakukan penduduk desa Jetis sejak tahun 1970-an antara lain disebabkan faktor pendorong dari desa, yaitu hilangnya kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya kemacetan industri tenun, dan kemudian ditunjang oleh daya tarik kota yang mereka ketahui dari orang-orang yang telah berurbanisasi. Arus urbanisasi mengalami peningkatan yang pesat, karena adanya kesenjangan yang besar dalam segi penghasilan antara di desa dan di kota.

Sebagai pendatang dengan latar bela-kang pendidikan yang rendah, dan  ketrampilan yang kurang memadai, umum-nya mereka bekerja pada sektor informal. Sedangkan dalam hal tempat tinggal, umum-nya mereka menyewa rumah atau kamar secara patungan beberapa orang kemudian mereka tempati secara bersama-sama. Kon-disi tempat tinggal mereka umumnya kurang memenuhi syarat kesehatan, dan kondisi ini seringkali bertolakbelakang dengan rumah yang mereka miliki di desa.

Urbanisasi telah menjadi penghu-bung antara desa dengan kota. Mereka yang melakukan urbanisasi secara praktis telah menjadi sumber kemajuan dan kehidupan dunia luar serta menjadi model manusia modern di desa asalnya. Dengan demikian, urbanisasi telah membuat masyarakat desa menjadi semakin berwawasan luas, bersikap progresif, dan terbuka terhadap perubahan.   Urbanisasi penduduk desa Jetis ter-nyata memberikan dampak dalam berbagai aspek kehidupan bagi penduduk desa. Dampak urbanisasi pada aspek sosial ekonomi yang paling nampak adalah terjadinya peningkatan kesejahteraan hidup warga masyarakat. Secara fisik perubahan yang dapat dilihat adalah semakin banyak-nya bangunan rumah baru dengan model baru, terutama dibangun oleh penduduk yang melakukan urbanisasi. Perubahan seca-ra fisik yang lain nampak pada pem-bangunan prasarana dan sarana umum se-perti jalan, jembatan, dan sarana peribadat-an. Sedangkan dalam bidang pertanian, dampak yang ditimbulkan nampaknya cen-derung kurang menguntungkan. Hal ini terlihat dari sulitnya pemilik sawah untuk mencari tenaga buruh tani di desa setempat, sehingga terpaksa mereka mendatangkan buruh tani dari daerah lain.

Pada aspek sosial budaya, perubahan yang paling nampak sebagai akibat urbanisasi adalah dalam bidang pendidikan, dalam arti semakin tingginya tingkat pen-didikan yang dicapai oleh penduduk setem-pat. Dampak lain adalah kemampuan me-reka dalam mencari nafkah di kota di satu sisi telah menumbuhkan budaya kompetisi dan persaingan, di sisi lain timbul budaya “pamer” untuk meningkatkan status sosial.

Implikasi dari kasus urbanisasi di desa Jetis adalah perlu adanya kebijaksa-naan yang mengarahkan urbanisasi menjadi peluang untuk mempercepat proses pem-bangunan desa ke arah yang lebih positif, yaitu dengan memanfaatkan mereka yang melakukan urbanisasi untuk berperan se-bagai media dalam upaya memindahkan pengalaman pembangunan dari daerah lain untuk diterapkan di desanya, dengan kata lain mereka diberi peran sebagai agent of change bagi pembangunan desanya.

Implikasi yang lain adalah bahwa dengan peningkatan sarana dan prasarana transportasi dan jaringan komunikasi perlu adanya pemikiran tentang strategi kebijak-sanaan yang mengintegrasikan antara pem-bangunan desa dengan pembangunan kota.

 

Daftar Pustaka

Aminudin, Moh., Kemiskinan dan Polari-sasi Sosial:Studi Kasus di Desa Bu-lugede, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jakarta:UI Press, 1987).

Collier, William L., “Sistem Tebasan, Bibit Unggul, dan Pembaharuan Desa di Jawa,” dalam Prisma, No. 3 (6) 1974.

Effendi, Tadjuddin Noer, “Masalah Ketena-gakerjaan di Pedesaan dan Strategi Penanganannya,” dalam Peter Hagul (ed.) Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Jakarta: CV Rajawali, 1985).

Hugo, G., “Circular Migration in Indonesia” dalam Population and Development Review, No. 8 (1) 1986.

Lewis, G.J., Human Migration, A Geo-graphical Perspective (London: Croom Helm, 1982).

Mantra, Ida Bagus, “Pola Mobilitas Pendu-duk dari Desa ke Kota,” dalam Wi-dyapura, No. 6, 1980.

McGee, TG., The Urbanization Process in the Third World (London: G. Bell, 1982).

Papanek, Gustav dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, “Penduduk Miskin di Jakarta”, dalam Kemiskinan di Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986).

Saefullah, Asep Djaja “Mobilitas Penduduk dan Perubahan di Pedesaan,” dalam Prisma, No. 7, Tahun XXIII, 1994.

Singarimbun, Masri dan Penny DH, Pen-duduk dan Kemiskinan (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1976).

Todaro, M.P., “A Model of Labor Migration and Urban Unemployment in Less-Developed Countries,” dalam American Economic Review, No. 59, 1970.

White, Benjamin, “Java’s Green Revolution in Long-term Perpective” dalam Prisma, Edisi Bahasa Inggris, No. 48, 1989.

Zelinsky, Wilbur “The Hypothesis of the Mobility Transition,” dalam The Geographical Review, Volume LXI, 1971.

 ___________________

*Korespondensi : T.J.S Haryono. Departemen Antropologi, Fisip, Unair, Jl. Airlangga 4-6 Surabaya 60286. Telp. 031 5011 744. E-mail:

 

 

 

 

 

Last Updated ( Monday, 25 April 2011 21:51 )
 
RocketTheme Joomla Templates