Renat running text

Key Concepts

Anti Right Click (Hide this by setting Show Title to No in the Module Manager)

Memahami Teori Konstruksi Sosial PDF Print E-mail
Written by I. B. Putera Manuaba   
Thursday, 18 November 2010 12:30

JURNAL MASYARAKAT KEBUDAYAAN DAN POLITIK

Volume 21, Nomor 3:221-230

 

Memahami Teori Konstruksi Sosial

 

I. B. Putera Manuaba[1]

Ha

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

 

Abstract

            The theory of social construction is a theory of contemporary sociology its born was based on the combination of the previous of so many social theories. Social contruction theory then becomes an independent theory and is being applied in the study  everyday life. As a social  theory, the social construction is not only applied in empirical study but also explored to the textual study.

 

Key words: the theory of social construction, application, empirical and textual study

 

Teori konstruksi sosial (social construction) Berger dan Lukmann merupakan teori sosiologi kontemporer yang berpijak pada sosiologi pengetahuan. Dalam teori ini terkandung pemahaman bahwa kenyataan dibangun secara sosial, serta kenyataan dan pengetahuan merupakan dua istilah kunci untuk memahaminya. Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang diakui memiliki keberadaan (being)-nya sendiri sehingga tidak tergantung kepada kehendak manusia; sedangkan pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik (Berger, 1990:1).

Oleh karena konstruksi sosial merupakan sosiologi pengetahuan maka implikasinya harus menekuni pengetahuan yang ada dalam masyarakat dan sekaligus proses-proses yang membuat setiap perangkat pengetahuan yang ditetapkan sebagai kenyataan. Sosiologi pengetahuan harus menekuni apa saja yang dianggap sebagai pengetahuan dalam masyarakat.

Sosiologi pengetahuan, yang dikembangkan Berger dan Luckmann, mendasarkan pengetahuannya dalam dunia kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai kenyataan. Bagi mereka (1990:31-32), kenyataan kehidupan sehari-hari dianggap menampilkan diri sebagai kenyataan par excellence sehingga disebutnya sebagai kenyataan utama (paramount). Berger dan Luckmann (1990:28) menyatakan dunia kehidupan sehari-hari menampilkan diri sebagai kenyataan yang ditafsirkan oleh manusia. Maka itu, apa yang menurut manusia nyata ditemukan dalam dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu kenyataan seperti yang dialaminya.

Dunia kehidupan sehari-hari yang dialami tidak hanya nyata tetapi juga bermakna. Kebermaknaannya adalah subjektif, artinya dianggap benar atau begitulah adanya sebagaimana yang dipersepsi manusia. Misalnya, Bali dalam masyarakat modern campur-aduk, itulah kenyataannya yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat modern berarti masyarakat yang mengalami modernitas. Modernitas merupakan gejala sejarah atau fenomena sosial. Sebagai fenomena sosial, modernitas memang tidak terelakkan. Bagi Berger, modernitas dipengaruhi oleh kapitalisme, yang tumbuh dalam waktu yang lama (Berger, 1990:11-19).

Sebagai suatu yang berpengaruh bagi perubahan sosial, kapitalisme tidak hanya berkait dengan masalah kapital, tetapi mengandung konsep yang luas. Perannya tidak hanya ada dalam pengembangan kapital, tetapi juga sosial politik, budaya, dan nilai-nilai. Menurut Berger (1990:21), kapitalisme selalu dikombinasikan dengan industrialisme untuk menciptakan apa yang sekarang disebut dunia modern. Berger (1990:24) menyatakan, secara historis, perkembangan kapitalisme terjadi bersamaan dengan fenomena industrialisme.   

            Modernitas berkait dengan pengalaman modern, seperti pengalaman kehidupan kota dan pengalaman komunikasi massa modern. Kota, merupakan tempat pertemuan orang atau kelompok yang sangat berbeda-beda. Kota mendorong para penghuninya menjadi “urban” terhadap orang-orang asing. Modernitas (kemodernan), di masyarakat mana pun, telah berarti perkembangan kota dalam kapasitas besar (Berger et al., 1992:63). Kotalah yang telah menciptakan gaya hidup (termasuk gaya pikir, gaya rasa, dan pada umumnya gaya mengalami realitas), yang sekarang menjadi standard untuk masyarakat luas (Berger et al., 1992:65). Modernitas lebih dipahami sebagai “cara hidup yang lebih modern dan bercorak kekinian”

            Kota, yang identik dengan masyarakat urban (urban society), mengalami pengurbanisasian yang diakibatkan terutama oleh media modern komunikasi massa. Melalui publikasi massa, film, radio dan televisi, serta media modern lainnya, batasan-batasan kognitif dan normatif tentang realitas yang diciptakan di kota dengan cepat menyebar di seluruh masyarakat (Berger et al., 1992:65).

            Modernitas, juga berkait dengan soal identitas (modern).[2] Setidaknya, ada empat segi yang dapat dikemukakan berkait dengan identitas modern. Pertama, identitas modern bersifat terbuka. Kedua, identitas modern berdiferensiasi secara khas. Ketiga, identitas modern bersifat reflektif secara khas. Keempat, identitas modern terindividukan secara khas (Berger et al., 1992:73-74). Apa yang digambarkan Berger dkk. tentang identitas itu, lebih diarahkan pada identitas modern. Modernitas pada manusia, dilihat dari empat segi itu.

            Apa yang disebut modernitas adalah sebagai pengaruh kapitalisme. Kapitalisme, dari paradigma Marxis, sebagai kekuatan yang penting dalam dunia modern. Paradigma modernisasi memandang kapitalisme sebagai satu penyebab yang penting; kapitalismelah yang menyebabkan terjadinya serangkaian proses besar (Berger, 1990b:40-41). Implikasinya, modernitas itu sendiri ditandai dengan cara hidup modern, yang digerakkan oleh industri dan teknologi modern. Kehidupan modern, ditandai dengan kecepatan dan percepatan, produksi yang besar, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya (Berger, 1990b:43-49). Modernitas dibentuk oleh rasionalitas, birokrasi (institusi), industrialisasi (teknologi), kapitalisme, dan pluralitas. Modernitas, lebih dipahami sebagai upaya manusia yang senantiasa mengusahakan kehidupan terus-menerus agar sesuai dengan apa yang seharusnya dalam kehidupan kekinian sebagai dunia kehidupan sehari-hari.

Dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu yang berasal dari pikiran dan tindakan manusia, dan dipelihara sebagai yang nyata dalam pikiran dan tindakan. Atas dasar itulah kemudian Berger dan Luckmann (1990:29) menyatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari adalah objektivasi (pengobjektivan) dari proses-proses (dan makna-makna) subjektif dengan mana dunia akal-sehat intersubjektif dibentuk.

Dalam proses pengobjektivan, Berger dan Luckmann (1990:30) menekankan adanya kesadaran, dan kesadaran itu selalu intensional karena ia selalu terarah pada objek. Dasar kesadaran (esensi) memang tidak pernah dapat disadari, karena manusia hanya memiliki kesadaran tentang sesuatu (fenomena); baik menyangkut kenyataan fisik lahiriah maupun kenyataan subjektif batiniah. Seperti halnya manusia, yang juga memiliki kesadaran tentang dunia kehidupan sehari-harinya sebagaimana yang dipersepsinya. Di sini dapat dilihat bahwa analisis fenomenologis akan mencoba menyingkap berbagai lapisan pengalaman dan berbagai struktur makna yang ada dalam dunia kehidupan sehari-hari.  

Bagi Berger dan Luckmann (1990:32), kenyataan hidup sehari-hari sebagai kenyataan yang tertib dan tertata. Fenomena-fenomenanya seperti sudah tersusun sejak semula dalam bentuk pola-pola, yang tidak tergantung kepada pemahaman seseorang. Kenyataan hidup sehari-hari tampak sudah diobjektivasi, sudah dibentuk oleh suatu tatanan objek-objek sejak sebelum seseorang hadir. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari terus-menerus, dipakai sebagai sarana objektivasi yang membuat tatanan menjadi bermakna.

Kenyataan hidup sehari-hari bersifat intersubjektif, dipahami bersama-sama oleh orang yang hidup dalam masyarakat sebagai kenyataan yang dialami. Kendatipun kenyataan hidup sehari-hari merupakan dunia intersubjektif namun bukan berarti antara orang yang satu dengan orang yang lain selalu memiliki kesamaan perspektif dalam memandang dunia bersama. Setiap orang memiliki perspektif berbeda-beda dalam memandang dunia bersama yang bersifat intersubjektif. Perspektif orang yang satu dengan yang lain tidak hanya berbeda tetapi sangat mungkin juga bertentangan. Namun, bagi Berger dan Luckmann (1990:34), ada persesuaian yang berlangsung terus-menerus antara makna-makna orang yang satu dengan yang lain tadi. Ada kesadaran bersama mengenai kenyataan di dalamnya menuju sikap alamiah atau sikap kesadaran akal sehat. Sikap ini kemudian mengacu kepada suatu dunia yang sama-sama dialami banyak orang. Jika ini sudah terjadi maka dapat disebut dengan pengetahuan akal sehat (common-sense knowledge), yakni pengetahuan yang dimiliki semua orang dalam kegiatan rutin yang normal dan sudah jelas dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan hidup sehari-hari, yang diterima sebagai kenyataan oleh masyarakat merupakan faktisitas yang memaksa dan sudah jelas dengan sendirinya, dan juga akan berlangsung terus-menerus. Namun, masyarakat dapat saja menyangsikan atau mengubahnya. Untuk mengubah kenyataan, perlu peralihan yang sangat besar, kerja keras, dan pikiran kritis. Sepanjang kenyataan hidup--misalnya berupa kegiatan rutin sehari-hari--berlangsung terus tanpa interupsi maka kenyataan itu tidak menimbulkan masalah. Kesinambungan kenyataan baru terpotong manakala muncul masalah. Misalnya, dalam masyarakat Bali, sepanjang tidak menimbulkan masalah maka adat akan berlaku terus-menerus; dan kesinambungannya baru terpotong manakala adat tidak lagi kondusif bagi masyarakatnya.

Kenyataan hidup sehari-hari dialami bersama oleh orang-orang. Pengalaman terpenting orang-orang berlangsung dalam situasi tatap-muka, sebagai proses interaksi sosial (Berger dan Luckmann, 1990:41). Dalam situasi tatap-muka ini, orang-orang terus-menerus saling bersentuhan, berinteraksi, dan berekspresi. Dalam situasi itu pula terjadi interpretasi dan refleksi. Interaksi tatap-muka sangat memungkinkan mengubah skema-skema tipifikasi orang. Perjumpaan tatap-muka yang terjadi terus-menerus dapat mempengaruhi tipifikasi orang sebagai pendiam, pendendam, periang, dan sebagainya. Pada gilirannya, interaksi itu kembali melahirkan tipifikasi baru.

Suatu tipifikasi akan berlaku sampai ada perkembangan lain, yang menentukan tindakan-tindakan seseorang. Tipifikasi yang ada pada orang-orang yang berinteraksi, saling terbuka bagi adanya campur-tangan. Skema tipifikasi itu “bernegosiasi” terus-menerus dalam situasi tatap-muka. Misalnya, interaksi orang-orang Bali dengan orang luar Bali, menimbulkan adanya skema tipifikasi yang baru. Skema itu di antaranya dapat dilihat dari sikap-sikap, tindakan-tindakan, dan sifat-sifatnya. Tipifikasi yang ada dan baru terbentuk terjadi secara berkesinambungan.

Oleh karena itu, pandangan Berger dan Luckmann (1990:47) dapat dimengerti bahwa kenyataan sosial kehidupan sehari-hari dipahami dalam suatu rangkaian (continuum) berbagai tipifikasi, yang menjadi semakin anonim dengan semakin jauhnya tipifikasi itu dari di sini dan sekarang dalam situasi tatap-muka. Pada satu sisi, di dalam rangkaian itu terdapat orang-orang yang saling berinteraksi secara intensif dalam situasi tatap muka; dan di sisi lain, terdapat abstraksi-abstraksi yang sangat anonim karena sifatnya yang tidak terlibat dalam tatap muka. Dalam konteks ini, struktur sosial merupakan jumlah keseluruhan tipifikasi dan pola-pola interaksi yang terjadi berulang-ulang melalui tipifikasi, dan ia merupakan satu unsur yang esensial dari kenyataan hidup sehari-hari.

Berbagai skema tipifikasi, dengan kemampuan ekspresi diri, manusia mampu mengadakan objektivasi (objectivation). Manusia dapat memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatannya yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur-unsur dari dunia bersama. Objektivasi itu merupakan isyarat-isyarat yang bersifat tahan-lama dari proses-proses subjektif para produsennya, sehingga memungkinkan objektivasi dapat dipakai melampaui situasi tatap-muka.

Kenyataan hidup, tentunya tidak hanya berisi objektivasi-objektivasi; juga berisi signifikasi, yakni pembuatan tanda-tanda oleh manusia. Sebuah tanda (sign), dapat dibedakan dari objektivasi. Jika objektivasi lebih berupa ekspresi diri dalam wujud produk, signifikasi berupa ekspresi diri berupa bahasa. Namun, keduanya dapat digunakan sebagai tanda, dan terkadang kabur penggunaannya. Signifikasi bahasa menjadi yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan dan melalui bahasa. Suatu pemahaman mengenai bahasa, merupakan hal yang pokok bagi setiap pemahaman mengenai kenyataan hidup sehari-hari. Bahasa lahir dari situasi tatap muka, dan dengan mudah dapat dilepaskan darinya. Ia juga dapat menjadi tempat penyimpanan yang objektif dari akumulasi makna dan pengalaman yang besar dan yang kemudian dilestarikan dalam waktu dan diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya. Ia memiliki sistem tanda yang khas, yang bersifat objektif, yang tidak dimiliki sistem tanda lainnya. Ia sebagai faktisitas, yang memiliki sifat memaksa; karena memaksa orang masuk ke dalam pola-polanya.

Oleh karena yang dicoba dipahami di sini adalah kesadaran kenyataan sebagaimana yang dipersepsi pengarang maka--sebagaimana yang dikemukakan Berger dan Luckmann (1990:29)--metodennya yang representatif adalah metode fenomenologis. Metode yang berlandaskan pada pemikiran fenomenologi Husserl ini mencoba memahami gejala-gejala yang tampak atau fenomena-fenomena yang berupa kesadaran yang ada dalam masyarakat. Metode fenomenologi adalah suatu metode yang secara sistematis berpangkal pada pengalaman, sehingga metode ini mengharuskan terus-menerus mengadakan kontak dengan pengalaman.

Maka itu, secara metodis, pengguna metode ini melakukan tiga tingkat pembebasan diri berupa: (1) pembebasan diri dari unsur-unsur subjektif, (2) pembebasan diri dari kungkungan hipotesis, dan (3) pembebasan diri dari doktrin-doktrin tradisional.[3] Dengan demikian, kebenaran kenyataan dan pengetahuan, nantinya hanya diperoleh dari pengalaman.

 

Masyarakat sebagai Kenyataan Objektif dan Subjektif

Bagi Berger dan Luckmann (1990:66), masyarakat merupakan kenyataan objektif, dan sekaligus kenyataan subjektif. Sebagai kenyataan objektif, individu berada di luar diri manusia dan berhadap-hadapan dengannya; sedangkan sebagai kenyataan subjektif, individu berada di dalam masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Individu adalah pembentuk masyarakat; dan masyarakat adalah pembentuk individu. Maka itu, kenyataan sosial bersifat ganda dan bukan tunggal, yaitu kenyataan objektif dan sekaligus subjektif (Berger dan Luckmann, 1990:28-65).

Masyarakat sebagai kenyataan objektif, menurut Berger dan Luckmann (1990:66-67), terjadi melalui pelembagaan dan legitimasi. Pelembagaan (institusionalisasi), terjadi dari aktivitas yang dilakukan individu-individu manusia, dan dilakukan karena mereka tidak memiliki dunia sendiri, serta harus membangun dunianya sendiri. Ini karena manusia menempati kedudukan yang khas, yang berbeda dengan binatang. Artinya, manusia tidak memiliki dunia seperti halnya dunia binatang yang terbatas pada suatu distribusi geografis yang khas dan bersifat tertutup.

Adapun Berger dan Luckmann (1990:67-73) menyatakan bahwa hubungan antara manusia dengan lingkungannya bercirikan keterbukaan dunia sehingga memungkinkan manusia melakukan berbagai aktivitas. Adanya keterhubungan manusia dengan lingkungannya seperti itu, membuat ia mengembangkan dirinya bukan berdasarkan naluri tetapi melalui banyak macam kegiatan terus-menerus penuh variasi. Maka itu, dalam mengembangkan dirinya manusia tidak hanya berhubungan secara timbal-balik dengan lingkungan alam tertentu tetapi juga dengan tatanan sosial dan budaya yang spesifik, yang dihubungkan melalui perantaraan orang-orang yang berpengaruh (significant-others). Perkembangan manusia sejak kecil hingga dewasa memang sangat ditentukan secara sosial.

Organisme manusia pun menunjukkan “kekenyalan” yang luar biasa dalam berhadapan dengan lingkungan sosialnya. Di sini kodrat insani manusia terbentuk dari konstanta-konstanta antropologis (keterbukaan dunia dan kekenyalan struktur naluri) yang membatasi dan memungkinkan bentukan-bentukan sosio kultural manusia. Manusia secara bersama-sama menghasilkan suatu lingkungan manusiawi, dengan totalitas bentukan-bentukan sosio kultural dan psikologisnya. Semua bentukan itu merupakan hasil dari aktivitas produktif manusia. Oleh karena itulah Berger dan Luckmann menyatakan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk berkembang sebagai manusia dalam keadaan terisolasi untuk menghasilkan suatu lingkungan manusiawi.

Oleh karena manusia membutuhkan kestabilan dalam hidupnya maka keterbukaan dunia eksistensi manusia harus ditransformasikan ke dalam tatanan sosial yang berupa ketertutupan-dunia yang relatif. Dengan demikian, tatanan sosial merupakan produk manusia yang berlangsung terus-menerus, sepanjang eksternalisasinya juga terus-menerus berlangsung. Tatanan sosial tidak diberikan secara biologis, tidak diberikan oleh lingkungan alam, tidak merupakan kodrat alam, dan tidak dapat dijabarkan dari hukum alam. Tatanan sosial ada sebagai produk aktivitas manusia (Berger dan Luckmann, 1990:74-75).

 

Proses Sosial Momen Eksternalisasi

Produk aktivitas manusia--yang berupa produk-produk sosial terlahir dari eksternalisasi manusia. Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia terus-menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya. Eksternalisasi merupakan keharusan antropologis; keberadaan manusia tidak mungkin berlangsung dalam suatu lingkungan interioritas yang tertutup dan tanpa-gerak. Keberadaannya harus terus-menerus mencurahkan kediriannya dalam aktivitas. Keharusan antropologis itu berakar dalam kelengkapan biologis manusia yang tidak stabil untuk berhadapan dengan lingkungannya (Berger dan Luckmann,1990:75: Berger,1994:5-6).

Kedirian manusia adalah melakukan eksternalisasi yang terjadi sejak awal, karena ia dilahirkan belum selesai, berbeda dengan  binatang yang dilahirkan dengan organisme yang lengkap. Untuk menjadi manusia, ia harus mengalami perkembangan kepribadian dan perolehan budaya (Berger, 1994:5-6). Keadaan manusia yang belum selesai pada saat dilahirkan, membuat dirinya tidak terspesialisasi dari struktur instinktualnya, atau dunianya tidak terprogram. Dunia manusia adalah dunia yang dibentuk (dikonstruksi) oleh aktivitas manusia sendiri; ia harus membentuk dunianya sendiri dalam hubungannya dengan dunia (Berger, 1994:6-7). Dunia manusia yang dibentuk itu adalah kebudayaan, yang tujuannya memberikan struktur-struktur yang kokoh yang sebelumnya tidak dimilikinya secara biologis. Oleh karena merupakan bentukan manusia, struktur-struktur itu bersifat tidak stabil dan selalu memiliki kemungkinan berubah. Itulah sebabnya, kebudayaan selalu dihasilkan dan dihasilkan kembali oleh manusia. Ia terdiri atas totalitas produk-produk manusia, baik yang berupa material dan nonmaterial (Berger, 1994:8). Manusia menghasilkan berbagai jenis alat, dan dengan alat-alat itu pula manusia mengubah lingkungan fisis dan alam sesuai dengan kehendaknya. Manusia menciptakan bahasa dan membangun simbol-simbol yang meresapi semua aspek kehidupannya.

Adapun pembentukan kebudayaan nonmaterial selalu sejalan dengan aktivitas manusia yang secara fisis mengubah lingkungannya. Akibatnya, masyarakat merupakan bagian tidak terpisahkan dari kebudayaan nonmaterial. Masyarakat adalah aspek dari kebudayaan nonmaterial yang membentuk hubungan kesinambungan antara manusia dengan sesamanya, sehingga ia menghasilkan suatu dunia, yakni dunia sosial (Berger, 1994:8-9).

Masyarakat merupakan bentuk formasi sosial manusia yang paling istimewa, dan ini lekat dengan keberadaan manusia sebagai homo sapiens (makhluk sosial). Maka itu, manusia selalu hidup dalam kolektivitas, dan akan kehilangan kolektivitasnya jika terisolir dari manusia lainnya. Aktivitas manusia dalam membangun-dunia pada hakikatnya merupakan aktivitas kolektif. Kolektivitas itulah yang melakukan pembangunan-dunia, yang merupakan realitas sosial. Manusia menciptakan alat-alat, bahasa, menganut nilai-nilai, dan membentuk lembaga-lembaga. Manusia juga yang melakukan proses sosial sebagai pemelihara aturan-aturan sosial (Berger, 1994:9-10).

 

Proses Sosial Momen Objektivasi

Bagi Berger, masyarakat adalah produk manusia, berakar pada fenomena eksternalisasi. Produk manusia (termasuk dunianya sendiri), kemudian berada di luar dirinya, menghadapkan produk-produk sebagai faktisitas yang ada di luar dirinya. Meskipun semua produk kebudayaan berasal dari (berakar dalam) kesadaran manusia, namun produk bukan serta-merta dapat diserap kembali begitu saja ke dalam kesadaran. Kebudayaan berada di luar subjektivitas manusia, menjadi dunianya sendiri. Dunia yang diproduksi manusia memperoleh sifat realitas objektif (Berger, 1994:11-12). Semua aktivitas manusia yang terjadi dalam eksternalisasi, menurut Berger dan Luckmann (1990:75-76), dapat mengalami proses pembiasaan (habitualisasi) yang kemudian mengalami pelembagaan (institusionalisasi) (Berger dan Luckmann, 1990:75-76).

Kelembagaan berasal dari proses pembiasaan atas aktivitas manusia. Setiap tindakan yang sering diulangi, akan menjadi pola. Pembiasaan, yang berupa pola, dapat dilakukan kembali di masa mendatang dengan cara yang sama, dan juga dapat dilakukan di mana saja. Di balik pembiasaan ini, juga sangat mungkin terjadi inovasi. Namun, proses-proses pembiasaan mendahului sikap pelembagaan. Pelembagaan, bagi Berger dan Luckmann (1990:77-84), terjadi apabila ada tipifikasi yang timbal-balik dari tindakan-tindakan yang terbiasakan bagi berbagai tipe pelaku. Tiap tipifikasi semacam itu merupakan suatu lembaga. Tipifikasi tindakan-tindakan yang sudah dijadikan kebiasaan, yang membentuk lembaga-lembaga, merupakan milik bersama. Tipifikasi-tipifikasi itu tersedia bagi semua anggota kelompok sosial tertentu, dan lembaga-lembaga itu mentipifikasi pelaku-pelaku individual ataupun tindakan-tindakannya. Tipifikasi-tipifikasi timbal-balik itu terjadi secara diakronik dan bukan seketika. Lembaga-lembaga juga mengendalikan perilaku manusia dengan menciptakan pola-pola perilaku. Pola-pola inilah yang kemudian mengontrol yang melekat pada pelembagaan. Segmen kegiatan manusia yang telah dilembagakan berarti telah ditempatkan di bawah kendali sosial. Misalnya, dalam masyarakat Bali, lembaga hukum adat dapat memberikan sanksi kepada anggota masyarakat yang melanggar adat.

Dalam konteks inilah semua itu baru dapat disebut sebagai dunia sosial, sebuah kenyataan yang komprehensif dan diberikan, yang dihadapi oleh individu dengan cara yang analog dengan kenyataan dunia alamiah. Sebagai dunia objektif, bentukan-bentukan sosial dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya lewat sosialisasi. Dalam fase-fase awal sosialisasi, si anak belum mampu untuk membedakan antara objektivitas fenomena-fenomena alam dan objektivitas bentukan-bentukan sosial (Berger dan Luckmann, 1990:85). Contohnya, bahasa bagi anak seperti tampak sudah melekat pada kodrat benda-benda. Begitupun adat dalam masyarakat Bali, seperti sudah ada melekat, padahal itu sebagai bentukan sosial. Anggapan inilah yang terkadang membuat semua itu given, tidak dapat diubah lagi, dan pengarang cenderung bertitik-tolak dari pengalaman. Semua lembaga sama tampil seperti itu. Kelembagaan, memiliki sifat nyata atau faktisitas yang historis dan objektif. Inilah yang membuat Berger dan Luckmann (1990:86-87) menganggap dunia kelembagaan atau lembaga-lembaga berada sebagai kenyataan eksternal. Untuk memahaminya, individu harus “keluar” dan belajar mengetahui tentang lembaga-lembaga, sama seperti dalam memahami alam. Cara itu harus dilakukan oleh individu, meskipun kenyataan buatan manusia. Proses dengan mana produk-produk aktivitas manusia yang dieksternalisasi memperoleh sifat objektif inilah yang disebut objektivasi.  Jadi, objektivasi berarti disandangnya produk-produk aktivitas (baik fisis maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan produsennya semula, dalam bentuk kefaktaan (faktisitas) yang bersifat eksternal. Dunia kelembagaan adalah aktivitas manusia yang diobjektivasi. Dunia sosial yang telah memperoleh sifat objektif, tetap tidak dapat dilepaskan dari status ontologisnya, dari aktivitas manusia yang menghasilkannya.

Tatanan kelembagaan itu diobjektivasi dengan cara reifikasi, pemahaman atas fenomena-fenomena manusiawi seolah-olah semua itu “benda-benda” (things), bukan manusiawi atau adi-manusiawi (suprahuman). Reifikasi adalah pemahaman produk-produk kegiatan manusia dengan cara seolah-olah hal itu bukan produk manusia--seperti fakta-fakta alam, akibat-akibat kosmis, atau manifestasi kehendak ilahi. Reifikasi mengimplikasikan manusia mampu melupakan kenyataan, ia sendirilah yang menghasilkan dunia manusiawi; dan seterusnya dialektika antara manusia yang memproduksi dan produknya sudah hilang dalam kesadaran. Dunia yang direifikasi telah menjadi dunia yang tidak manusiawi lagi. Ia dialami manusia sebagai faktisitas yang asing, suatu karya asing yang berada di luar kendalinya, dan bukan sebagai karya sendiri dari kegiatan produksinya sendiri (Berger dan Luckmann, 1990:127-128). Ketika dunia sosial yang objektif sudah tercipta, di situ telah terjadi reifikasi. Objektivitas dunia sosial berarti ia dihadapi oleh manusia sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. Dalam objektivasi ini, penting juga dilihat tatanan kelembagaan. Asal-mula tatanan kelembagaan terletak dalam tipifikasi kegiatan-kegiatan seseorang dan orang-orang lain. Hal ini mengandung arti bahwa setiap orang mempunyai tujuan-tujuan yang sama dan terlibat dalam fase-fase yang jalin-menjalin.

Apabila tipifikasi sudah diobjektivasi pada kolektivitas pelaku-pelaku maka akan menyangkut peranan. Peranan biasanya diobjektivasi melalui bahasa. Dengan memainkan peranan berarti individu berpartisipasi dalam suatu dunia sosial. Dengan menginternalisasi peranan, dunia secara objektif menjadi nyata baginya. Bagi Berger dan Luckmann (1990:106-109), yang penting dalam peranan adalah proses pembiasaan. Peranan itu terdapat dalam interaksi sosial dan mendahului pelembagaan. Semua perilaku yang sudah dilembagakan, melibatkan berbagai peranan. Karena itu, peranan memiliki sifat mengendalikan pelembagaan. Begitu pelaku-pelaku sudah ditipifikasi sebagai peranan, perilakunya dapat dipaksakan. Maka, mau tidak mau, individu manusia harus menaati norma-norma peranan yang sudah disepakati secara sosial. Di sinilah peranan merepresentasikan tatanan kelembagaan. Misalnya, peranan desa adat dalam masyarakat Bali, merepresentasikan kelembagaan desa adat (pakraman).

Berger dan Luckmann (1990:116) menyatakan bahwa pelembagaan bukanlah suatu proses yang stabil walaupun dalam kenyataannya lembaga-lembaga sudah terbentuk dan mempunyai kecenderungan untuk bertahan terus. Akibat berbagai sebab historis, lingkup tindakan-tindakan yang sudah dilembagakan mungkin saja mengalami pembongkaran lembaga (deinstitusionalization). Proses-proses kelembagaan ini acapkali diikuti dengan objektivasi makna “tingkat kedua” yang disebut legitimasi. Fungsi legitimasi adalah untuk membuat objektivasi “tingkat pertama” yang sudah dilembagakan menjadi tersedia secara objektif dan masuk akal secara subjektif. Legitimasi harus melakukan penjelasan-penjelasan dan pembenaran-pembenaran mengenai unsur-unsur penting dari tradisi kelembagaan. Legitimasi menjelaskan tatanan kelembagaan dengan memberikan kesahihan kognitif dan martabat normatif. Namun, semua legitimasi merupakan buatan manusia (Berger dan Luckmann, 1990: 132-184).

Dalam pemahaman Berger (1994:36), semua dunia yang dibangun secara sosial adalah rawan, karena keberadaannya terancam oleh kepentingan diri manusia atau kebodohan manusia. Karena itu, diperlukan legitimasi untuk pemeliharaan dunia. Banyak legitimasi yang ada untuk pemeliharaan-dunia. Namun, agama, secara historis, merupakan instrumentalis legitimasi yang paling tersebar dan efektif. Semua legitimasi mempertahankan realitas yang didefinisikan secara sosial. Agama melegitimasikan sedemikian efektifnya, karena agama menghubungkan konstruksi-konstruksi realitas rawan dari masyarakat-masyarakat empiris dengan realitas purna.

Berger (1994:41-42) menyebut agama melegitimasi lembaga-lembaga sosial dengan memberikannya status ontologis yang absah, yaitu dengan meletakkan lembaga-lembaga di dalam suatu kerangka acuan keramat dan kosmik. Konstruksi-konstruksi historis aktivitas manusia dilihat dari suatu titik tinggi yang mengatasi (transcend) sejarah ataupun manusia. Sesuatu yang transcend melegitimasi apa yang ada di bawahnya. Bentuk legitimasi yang paling kuno adalah tatanan kelembagaan yang langsung mencerminkan atau mewujudkan struktur ilahi, yaitu konsepsi hubungan antara masyarakat dan kosmos sebagai hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Segala yang “di bawah sini” memiliki analog dengan yang “di atas sana”. Dengan berpartisipasi dalam tatanan kelembagaan maka manusia berpartisipasi dalam kosmos ilahiah. Struktur kekerabatan di Bali misalnya, menjangkau melewati wilayah manusiawi, dengan semua kedirian (termasuk kedirian ilahi) dibayangkan dalam struktur kekerabatan sebagai tercetak dalam masyarakat. Seksualitas mencerminkan kreativitas ilahi. Setiap keluarga manusia merupakan perwujudan struktur kosmos ilahi. Struktur politis merupakan perluasan dari kekuasaan kosmos ilahi. Wewenang politis dibayangkan sebagai wakil kosmos ilahi atau inkarnasi ilahi. Kekuasaan manusia, pemerintah, dan hukuman menjadi fenomena-fenomena sakramental, yaitu saluran-saluran yang dipakai sebagai kekuatan-kekuatan ilahi untuk menyentuh kehidupan-kehidupan manusia. Penguasa bersabda demi kosmos ilahi, dan mematuhinya berarti berada dalam hubungan yang benar dengan dunia ilahi. Dalam masyarakat Bali misalnya, gagasan dharma (kewajiban sosial) yang menghubungkan individu dengan tatanan universal semesta alam bertahan terhadap reinterpretasi-reinterpretasi makna-maknanya. Sepanjang skema mikrokosmos dan makrokosmos berhasil ditembus, sepanjang itu pula agama terus menjadi pelaku pemberi legitimasi sentral.

            Agama yang secara historis penting dalam proses legitimasi, semakin jelas lagi kalau disadari perihal kemampuan unik dirinya untuk “menempatkan” fenomena-fenomena manusia di dalam suatu acuan kosmik. Semua legitimasi bertindak memelihara realitas sebagai suatu kolektivitas manusia tertentu. Legitimasi religius (yang diberi agama) menghubungkan realitas yang didefinisikan secara manusiawi dengan realitas purna yang universal dan keramat. Di sini konstruksi-konstruksi aktivitas manusia yang rawan dan bersifat sementara mendapatkan kemantapan dan ketetapan purna (Berger, 1994:44).

Kendatipun realitas dunia yang dibangun secara sosial dipertahankan oleh legitimasi-legitimasi religius, namun dalam sehari-hari realitas dunia  terus-menerus dikelilingi bayang-bayang dari realitas sosial yang berbeda, yang diakibatkan oleh suatu kesadaran yang memiliki status kognitif khusus, misalnya kesadaran manusia modern. Agama di sini bertindak mengintegrasikan realitas-realitas dengan realitas kehidupan sehari-hari, dengan memberikan realitas-realitas suatu status kognitif yang lebih tinggi.

Keseluruhan deskripsi tersebut menyangkut masyarakat yang dipahami sebagai kenyataan objektif. Namun, dalam waktu yang serentak juga, masyarakat dipahami sebagai kenyataan subjektif. Ini terjadi dalam momen internalisasi, yang dilakukan dalam bentuk sosialisasi primer dan sekunder.

 

Proses Sosial Momen Internalisasi

Masyarakat dipahami juga sebagai kenyataan subjektif, yang dilakukan melalui internalisasi. Internalisasi adalah suatu pemahaman atau penafsiran individu secara langsung atas peristiwa objektif sebagai pengungkapan makna. Berger dan Luckmann (1990:87) menyatakan, dalam internalisasi, individu mengidentifikasikan diri dengan berbagai lembaga sosial atau organisasi sosial dimana individu menjadi anggotanya. Internalisasi merupakan peresapan kembali realitas oleh manusia dan mentransformasikannya kembali dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif (Berger, 1994:5).

Subjektivitas itu tersedia secara objektif bagi orang yang menginternalisasi dan bermakna, tidak peduli apakah ada kesesuaian antara kedua makna subjektifnya. Dalam konteks ini, internalisasi dipahami dalam arti umum, yakni merupakan dasar: pertama, bagi pemahaman mengenai sesama, dan kedua, bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial (Berger dan Luckmann, 1990:186). Selanjutnya dikatakan Berger dan Luckmann (1990:187), baru setelah mencapai taraf internalisasi inilah individu menjadi anggota masyarakat. Proses untuk mencapai taraf itu dilakukan dengan sosialisasi. Ada dua macam sosialisasi, yakni: pertama, sosialisasi primer, adalah sosialisasi pertama yang dialami individu dalam masa kanak-kanak. Kedua, sosialisasi sekunder, adalah setiap proses berikutnya ke dalam sektor-sektor baru dunia objektif masyarakatnya.

Sosialisasi primer merupakan yang paling penting bagi individu, sebab struktur dasar dari semua sosialisasi sekunder harus mempunyai kemiripan dengan struktur dasar sosialisasi primer. Setiap individu dilahirkan ke dalam suatu struktur sosial yang objektif, dan di sinilah ia menjumpai orang-orang yang berpengaruh dan yang bertugas mensosialisasikannya. Ia dilahirkan tidak hanya ke dalam suatu struktur sosial yang objektif, tetapi juga ke dalam dunia sosial subjektif. Orang-orang yang berpengaruh itu mengantarai dunia dengan diri, memodifikasi dunia atau menyeleksi aspek-aspek dari dunia yang sekiranya sesuai dengan lokasi dan watak khas mereka yang berakar pada biografi masing-masing.

Internalisasi berlangsung karena adanya upaya untuk identifikasi. Si anak mengoper peranan dan sikap orang-orang yang berpengaruh, dan menginternalisasi serta menjadikannya peranan sikap dirinya. Dengan mengidentifikasi orang-orang yang berpengaruh itulah anak mampu mengidentifikasi dirinya sendiri, untuk memperoleh suatu identitas yang secara subjektif koheren dan masuk akal. Diri merupakan suatu entitas yang direfleksikan, yang memantulkan sikap yang mula-mula diambil dari orang-orang yang berpengaruh terhadap entitas diri itu. Sosialisasi primer menciptakan di dalam kesadaran anak suatu abstraksi yang semakin tinggi dari peranan-peranan dan sikap orang-orang lain tertentu ke peranan-peranan dan sikap-sikap pada umumnya.

Dalam sosialisasi primer biasanya tidak ada masalah dalam identifikasi, karena orang-orang yang berpengaruh tidak dipilih. Anak harus menerima orang-orang yang berpengaruh itu apa adanya, ibarat nasib, dan terjadi secara kuasi-otomatis. Anak menginternalisasi dunia orang-orang yang berpengaruh tidak sebagai satu di antara banyak dunia yang mungkin, sebagai kenyataan yang tidak terelakkan. Anak menginternalisasinya sebagai dunia satu-satunya yang ada dan yang dapat dipahami. Oleh karena itulah dunia yang diinternalisasi dalam sosialisasi primer jauh lebih kuat tertanam dalam kesadaran dibandingkan dengan dunia-dunia yang diinternalisasi dalam sosialisasi sekunder. Hal yang pertama sekali harus diinternalisasi adalah bahasa. Dengan bahasa, sebagai perantaraannya, berbagai skema motivasi dan interpretasi diinternalisasi sebagai sudah didefinisikan secara kelembagaan. Yang jelas, dalam sosialisasi primerlah dunia pertama individu terbentuk.

Sosialisasi primer, bagi Berger dan Luckmann (1990:197), akan berakhir manakala konsep tentang orang lain pada umumnya (dan segala sesuatu yang menyertainya) telah terbentuk dan tertanam dalam kesadaran individu. Ia sudah merupakan anggota masyarakat dan secara subjektif telah memiliki suatu diri dan sebuah dunia. Namun, internalisasi masyarakat, identitas, dan kenyataan, tidak terjadi sekali jadi dan selesai tuntas. Sosialisasi tidak pernah total dan tidak pernah selesai. Hal ini menghadapkan pada dua masalah lain, yakni: pertama, bagaimana kenyataan yang sudah diinternalisasi dalam sosialisasi primer dipertahankan dalam kesadaran; kedua, bagaimana sosialisasi berikutnya berlangsung. Dalam hal ini, ada kecenderungan dalam masyarakat--yang khasanah pengetahuannya sederhana--tidak akan terjadi sosialisasi lebih lanjut. Namun, perlu diingat juga bahwa semua masyarakat mempunyai pembagian kerja sehingga terjadi tingkat distribusi pengetahuan, dan sosialisasi sekunder terjadi (Berger dan Luckmann, 1990:198).

Sebagaimana dikemukakan Berger bahwa dalam sosialisasi primer memang sudah terjadi pluralisasi. Namun, menurut Berger (1992:65-66), pluralisasi tingkat tinggi baru terjadi pada sosialisasi sekunder. Sosialisasi sekunder baru terjadi setelah pembentukan diri pada tahap awal. Proses sosialisasi sekunder, diwujudkan sejak lembaga anak menempuh pendidikan formal--dari taman kanak-kanak sampai bekerja.

Berger dan Luckmann (1990:198-199) menegaskan bahwa sosialisasi sekunder adalah sosialisasi sejumlah “subdunia” kelembagaan, atau yang berlandaskan lembaga. Lingkup jangkauan dan sifat sosialisasi ini, ditentukan oleh kompleksitas pembagian kerja dan distribusi pengetahuan dalam masyarakat yang menyertainya. Sosialisasi sekunder adalah proses memperoleh pengetahuan khusus sesuai dengan peranannya (role specific knowledge), dan peranan ditentukan berdasarkan pembagian kerja.

Berger dan Luckmann (1990:224) menyatakan bahwa kenyataan subjektif itulah yang mesti dipertahankan, sebab sosialisasi mengimplikasikan kemungkinan bahwa kenyataan subjektif dapat ditransformasikan. Berada dalam suatu masyarakat berarti melibatkan diri dalam proses yang terus-menerus untuk memodifikasi  kenyataan subjektif; dan kenyataan subjektif tidak pernah disosialisasikan sepenuhnya, karena ia tidak pernah dapat ditransformasikan sepenuhnya oleh proses-proses sosial.

Keberhasilan sosialisasi, menurut Berger (1994:19-20), sangat tergantung pada adanya simetri antara dunia objektif masyarakat dengan dunia subjektif individu. Apabila kita mengandaikan seorang individu yang tersosialisasi total, berarti setiap makna yang secara objektif terdapat dalam dunia sosial akan mempunyai makna analognya secara subjektif dalam kesadaran individu itu sendiri. Hanya saja, sosialisasi total semacam itu tidak akan ada, dan secara teoretis pun tidak mungkin ada. Kendati demikian, terdapat tingkat keberhasilan dalam sosialisasi. Sosialisasi yang berhasil, akan memberikan suatu simetri objektif dan subjektif tingkat tinggi.

Adapun kegagalan sosialisasi, mengarah pada berbagai tingkat asimetri. Jika sosialisasi tidak berhasil menginternalisasi--sekurang-kurangnya makna paling penting dari suatu masyarakat tertentu--maka masyarakat itu tidak akan berhasil membentuk tradisi dan menjamin kelestarian masyarakat itu sendiri. Berger dan Luckmann (1990:239), ketika menjelaskan sosialisasi primer, cenderung melihat bahwa kegagalan sosialisasi dapat disebabkan karena pengasuh yang berlainan mengantarkan berbagai kenyataan objektif kepada individu. Kegagalan sosialisasi dapat merupakan akibat heterogenitas di kalangan personil sosialisasinya.

Identitas merupakan satu unsur kunci kenyataan subjektif dan berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu ia memperoleh wujudnya, ia dipelihara, dimodifikasi, atau malahan dibentuk-ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Masyarakat mempunyai sejarah dan di dalam perjalanan sejarah itu muncul identitas-identitas khusus; tetapi sejarah-sejarah itu dibuat oleh manusia dengan identitas-identitas tertentu (Berger dan Luckmann, 1990:248). Jika kita memahami dialektika ini, kita akan dapat menghindari pengertian yang menyesatkan tentang identitas-identitas kolektif yang tidak memperhitungkan keunikan dari eksistensi individu. Struktur-struktur sosial historis tertentu melahirkan tipe-tipe identitas, yang dapat dikenali dalam kasus-kasus individual.

Hanya dengan mengalihkan dunia sosial kepada generasi baru maka dialektika sosial yang mendasar dapat tampil dalam totalitasnya. Hanya dengan munculnya satu generasi baru, kita benar-benar dapat berbicara tentang suatu dunia sosial.

 

Simpulan

Dalam memahami teori konstruksi sosial Bergerian, ada tiga momen penting yang harus dipahami secara simultan. Ketiga momen  itu adalah eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, yang bagi Berger, memiliki hubungan dasar dan dipahami sebagai satu proses yang berdialektika (interplay) satu sama lain. Masing-masing dari ketiga momen itu berkesesuaian dengan suatu karakterisasi yang esensial dari dunia sosial. Melalui eksternalisasi, masyarakat merupakan produk manusia; melalui objektivasi, masyarakat menjadi realitas sui generis, unik; dan melalui internalisasi, manusia merupakan produk masyarakat (Berger, 1994:5). Ada proses menarik keluar (eksternalisasi) sehingga seakan-akan hal itu berada di luar (objektivasi), dan lebih lanjut ada proses penarikan kembali ke dalam (internalisasi) sehingga yang berada di luar seakan-akan berada di dalam diri.

Hubungan antara manusia (sebagai produsen) dan dunia sosial (sebagai produknya), tetap merupakan hubungan yang dialektis. Manusia dan dunia sosialnya berinteraksi satu sama lain, dan produk berbalik mempengaruhi produsennya. Eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi merupakan momen dalam suatu proses dialektis yang berlangsung terus-menerus. Masyarakat adalah produk manusia (society is a human product); masyarakat adalah kenyataan objektif (man is an objective reality); dan manusia adalah produk sosial (man is a social product). Jika dalam proses ini ada satu momen diabaikan maka mengakibatkan terjadinya distorsi. Teori tentang masyarakat konstruksi sosial Bergerian melihatnya dari ketiga momen dialektik itu.

 

Daftar Pustaka

 

Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (diterjemahkan dari buku asli The Social Construction of Reality oleh Hasan Basari). Jakarta: LP3ES.

Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1992. Pikiran Kembara: Modernisasi dan Kesadaran Manusia (diterjemahkan dari buku asli The Homeless Mind: Modernization and Consciousness). Yogyakarta: Kanisius.

Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1994. Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial (diterajemahkan dari buku asli Sacred Canopy oleh Hartono). Jakarta: Pustaka LP3ES.

Dimyati, Mohammad. 2000. Penelitian Kualitatif: Paradigma, Epistemologi. Pendekatan, Metode, dan Terapan (Malang: IPTI dan UNM).

 

 

 

 



[1] Korespondensi: I. B. Putera Manuaba. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya 60286, Indonesia. Telp: 031-8550421, 08155091319.  E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

[2]Lihat Peter L. Berger et al., Pikiran Kembara: Modernisasi dan Kesadaran Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 1992), halaman 73. Di sini identitas dipahami sebagai cara individu menentukan dan membatasi diri mereka sendiri. Identitas merupakan unsur hakiki struktur khusus kesadaran dan dengan demikian terhadapnya dapat dilakukan deskripsi fenomenologis.

[3] Mohammad Dimyati, Penelitian Kualitatif: Paradigma, Epistemologi, Pendekatan, Metode, dan Terapan (Malang: IPTPI dan UNM, 2000),  hlm. 68-71.

Last Updated ( Monday, 09 May 2011 22:27 )
 
RocketTheme Joomla Templates